Rupiah Makin Dekati 16.300 per Dolar AS, BI Buka Suara
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah semakin mendekati Rp 16.300/USD usai kembali ditutup melemah dalam perdagangan Selasa (11/6/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) rupiah tergelincir 5 poin ke level Rp 16.295/USD setelah sebelumnya berada di posisi Rp 16.290/USD.
Merespons hal tersebut Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto angkat bicara. Ia mengungkapkan tekanan oleh indeks dolar Amerika Serikat (AS) dirasakan oleh hampir seluruh mata uang Asia.
"Rilis data nonfarm payrolls AS yang di atas ekspektasi, sehingga non deliverable forward mata uang Asia ditutup melemah," kata Edi kepada Investortrust.id, Selasa (11/6/2024).
Untuk mengatasi tekanan tersebut BI memastikan akan mengeluarkan sejumlah jurus agar nilai tukar rupiah tetap stabil di pasar valas. Lebih lanjut menurut Edi, intervensi pasar dilakukan BI juga untuk memastikan tidak terjadi gejolak berlebih.
"Dan juga untuk memastikan keseimbangan supply demand valas di pasar terjaga agar confidence pasar tetap terjaga," ucap Edi.
Sementara itu analis rupiah Ibrahim Assuiabi menyampaikan ulasan di mana indeks dolar AS yang menguat didukung oleh imbal hasil treasury yang lebih tinggi. Hal ini masih berkaitan dengan rilis data nonfarm payrolls AS yang diluar ekspektasi publik pada Jumat (7/6/2024) lalu waktu setempat.
"Itu (rilis data) memicu penurunan dramatis taruhan terhadap penurunan suku bunga Fed tahun ini," sebut Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (11/6/2024).
Ia juga mengungkap sejumlah ekonom telah memprakirakan inflasi harga konsumen AS akan turun menjadi 0,1% dari 0,3% bulan lalu, dan tekanan harga inti akan tetap stabil pada bulan ini di 0,3%. Diperkirakan tidak ada perubahan kebijakan pada akhir pertemuan kebijakan dua hari The Fed yang berakhir pada hari Rabu, namun para pejabat akan memperbarui proyeksi ekonomi dan suku bunga mereka.
Para pejabat telah berubah menjadi lebih hawkish sejak rilis data terakhir pada bulan Maret, ketika proyeksi median adalah pengurangan tiga perempat poin pada tahun ini.
"Pasar saat ini memperkirakan hanya pemotongan sebesar 37 basis poin pada bulan Desember," pungkas Ibrahim.

