Menkeu: Perang Dagang Tak 'Kaleng-Kaleng'
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan perang yang lebih besar dari perang militer. Perang yang tak 'kaleng-kaleng' tersebut yaitu perang dagang.
“Perang dagang telah terjadi dan eskalasinya luar biasa. Restriksi dagang diberlakukan antarnegara, ini antara blok Amerika Serikat dan RRC,” kata Sri Mulyani di kompleks MPR/DPR, Jakarta, Selasa (4/6/2024).
Baca Juga
Zulhas Sebut Neraca Perdagangan Surplus 48 Bulan Berturut-turut, Tapi Ekspor Anjlok
Restriksi Perdagangan Melonjak
Sri Mulyani mencatat terjadinya restriksi perdagangan sejak 2019. Pada tahun itu, terdapat 982 pembatasan perdagangan.
Dua tahun setelahnya, restriksi perdagangan mengalami lonjakan dengan 2.491 pembatasan perdagangan. Pada 2022 tercatat terdapat 2.845 pembatasan perdagangan dan tahun 2023, terdapat 3.000-an pembatasan perdagangan.
“Nggak 'kaleng-kaleng' nilainya. Ini menimbulkan disrupsi,” kata dia.
Baca Juga
Bendahara Negara itu mengenang, semasa kuliah dulu, industrial policy dianggap tabu. Tapi, kebijakan itu menjadi praktik yang normal saat ini.
Dia mengatakan kebijakan ini dipakai banyak negara untuk mengamankan perekonomian dan keamanan industri domestik masing-masing. Misalnya Amerika Serikat, menggulirkan aturan mengenai chip dalam Chips and Science Act. Selain itu, AS mengeluarkan Inflation Reduction Act untuk menangani inflasi dan onshoring foreign direct investment (FDI) dari Cina ke AS.
“Mereka juga men-secure rantai pasok industri strategis chip dan EV (electric vehicle),” kata dia.
Kondisi ini, kata dia, diperparah dengan peran lembaga internasional yang melemah. Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) bahkan di by pass oleh aturan di tingkat domestik.
“Bahkan The Economist menyebutnya 'The death of WTO now looks inevitable',” kata dia.
Kondisi ini, kata Sri Mulyani, berdampak ke tekanan fiskal negara-negara berkembang. Setelah pandemi, negara-negara tersebut akan menghadapi tekanan harga komoditas.
“Ini global environment yang terjadi pada 2023, the dark cloud, istilah Indonesia-nya, ekonomi tidak baik-baik saja. Ini memberi konteks kondisi ekonomi global yang stagnan,” ujar dia.

