Tak Hanya Perang Dagang, AS-China Juga Bersitegang di Udara dan Di Lautan
Jakarta, investortrust.id - Seminggu yang lalu, (3/4/2025) sebuah pesawat intai milik AU Amerika Serikat, RC-135W Rivet disergap oleh pesawat tempur Angkatan Udara Tiongkok, J-10C saat terbang di Wilayah Udara Internasional di barat daya Taiwan, dekat Semenanjung Hengchun.
Seperti yang dilaporkan oleh Liberty Times pada tanggal 3 April 2025, kejadian tersebut melibatkan pertukaran radio antara kedua belah pihak, di mana pilot Tiongkok menanyakan, “Pesawat militer AS, Anda telah memasuki zona 24 mil laut Tiongkok Taiwan, apa tujuan Anda?” Pilot AS menjawab, “Saya beroperasi di wilayah udara internasional sesuai dengan hukum internasional.” Pesawat AS kemudian melanjutkan misinya setelah interaksi tersebut, dan tidak ada insiden lebih lanjut yang dilaporkan.
Tidak lama kemudian di lautan pada Rabu, (9/4/2025), gugus tugas Kapal Induk Angkatan Laut Amerika Serikat USS Carl Vinson (CVN 70) yang saat itu berlayar di Selat Malaka membayangi kapal induk China Type 002 Shandong dan pengawalnya yang tengah melakukan operasi ekstensif dan latihan tempur di Laut China Selatan dan Laut Filipina di sekitar Taiwan.
Kapal induk bertenaga nuklir Angkatan Laut AS itu berlayar menuju Komando Pusat AS (CENTCOM) di Timur Tengah setelah sekian lama beroperasi di Asia Timur. USS Carl Vinson tidak sendirian dalam memantau kegiatan Angkatan Laut Tiongkok, militer Jepang juga disebutkan membantu memantau latihan perang militer Tiongkok.
Kapal induk China Type 002 Shandong dan pengawalnya melakukan operasi ekstensif di Laut China Selatan dan Laut Filipina di sekitar Taiwan. Dari pantauan militer Jepang, dilaporkan bahwa kapal induk tersebut telah melakukan puluhan simulasi serangan mendadak dengan pesawat tempur dan helikopter yang lepas landas dari geladaknya.
Kelompok kapal induk Tiongkok, bersama dengan kapal-kapal pengawalnya, ikut serta dalam latihan berskala besar yang mensimulasikan operasi tempur di perairan dekat Taiwan. Ini akan menjadi latihan terbaru dari serangkaian latihan yang dilakukan oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang memberikan tekanan pada Taiwan, atau dikenal sebagai Republik China, yang dianggap RRT sebagai wilayah yang memisahkan diri secara tidak sah.
Pejabat AS dan Jepang menyiratkan kekhawatiran akan invasi Taiwan oleh militer RRT dengan semakin meningkatnya intensitas latihan oleh militer RRT dengan berbagai peralatan militer baru yang secara khusus dirancang untuk operasi amfibi skala besar setelah Operasi D-Day pada Perang Dunia Kedua.
Tiongkok Mengeluarkan Protes Keras
Sehari kemudian, (10/4/2025) Kementerian Pertahanan Nasional Tiongkok mengeluarkan teguran keras menyusul keterlibatan AS baru-baru ini dengan Filipina, termasuk penjualan alutsista baru dan patroli gabungan dengan pasukan Jepang di Laut China Selatan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Tiongkok Kolonel Senior Zhang Xiaogang, dengan nada tinggi menuduh Amerika Serikat menggunakan perjanjian bilateral sebagai dalih untuk ikut campur dalam sengketa regional.
Menurut Zhang, "Dengan dalih menghormati perjanjian bilateral, AS mencampuri masalah Laut China Selatan, merusak kedaulatan teritorial dan hak serta kepentingan maritim Tiongkok, serta berupaya mengancam dan memaksa Tiongkok. Pendekatan ini tidak akan berhasil."
AS juga baru-baru ini menyetujui penjualan jet tempur F-16 Block 70/72 ke Angkatan Udara Filipina, sebuah langkah yang menurut Washington dimaksudkan untuk meningkatkan pertahanan dan pencegahan regional. Namun, Tiongkok berpendapat lain dan memandang upaya ini sebagai provokasi.
Zhang menuduh pemerintah Filipina berulang kali memprovokasi Tiongkok dan menyalahkan "negara-negara luar yang dipimpin oleh AS" karena memicu ketidakstabilan di Laut China Selatan. "Itu sepenuhnya mengungkap niat sebenarnya mereka untuk membuat masalah di kawasan itu," katanya, mengacu pada tindakan AS dan koordinasi pertahanan dengan Manila dan Tokyo.
Pejabat Tiongkok itu memperingatkan bahwa ketergantungan Manila pada kekuatan asing tidak akan berakhir dengan menguntungkannya. "Bagi pihak Filipina, 'mengandalkan dukungan asing untuk membuat gelombang di laut' akan menjadi bumerang dan pion hanya akan digunakan dan dibuang," ujar Zhang."Kami mendesak pihak Filipina untuk melepaskan ilusi yang tidak realistis dan kembali ke jalur dialog dan negosiasi yang benar pada tahap awal." tambahnya.
Hubungan Tiongkok dan negara-negara tetangganya semakin memburuk akibat wilayah perairan yang disengketakan di mana Angkatan Laut RRT mengintensifkan latihan militer dan mengerahkan kapal penjaga pantai, membangun pangkalan dan menempatkan milisi di dekat pulau-pulau yang disengketakan.

