Perang Teknologi, Perang Dagang, Lalu Apa Lagi?
JAKARTA, investortrust.id – Perang teknologi, perang dagang, lalu akan ada kegaduhan apa lagi? Dunia kian terfragmentasi, proteksionisme menjadi-jadi. Dunia menjauh dari kesetaraaan, keadilan, dan keseimbangan. Indonesia berdiri dimana?
Baru saja dunia Barat dikejutkan kemunculan aplikasi artificial intelligence (AI) DeepSeek buatan China, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini memenuhi janjinya untuk mematok tambahan tarif impor terhadap tiga mitra dagang utama, yang dituding sebagai pemicu babak belurnya defisit perdagangan. Tiga negara yang menjadi sasaran tembak, yaitu Kanada, Meksiko, dan China sudah menyiapkan tindakan balasan. Perang dagang mulai berkobar.
Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan tarif sebesar 25% untuk barang-barang dari Meksiko dan Kanada serta bea tambahan 10% untuk impor dari China (sehingga menjadi 60%), yang mulai berlaku pada Selasa (4/2/2025). Khusus untuk sektor energi, AS hanya memberlakukan tarif 10% untuk Kanada.
Dalam unggahannya di X, Trump menyatakan bahwa tarif tersebut diberlakukan antara lain karena ancaman besar dari imigran ilegal dan obat-obatan mematikan yang membunuh warga negara AS, termasuk narkoba jenis fentanyl. Menurut Washington, China memproduksi fentanyl dan bahan prekursor yang menembus masuk ke pasar Meksiko dan Kanada. Pihak AS juga menuduh Meksiko beraliansi dengan mafia perdagangan narkoba.
Kebijakan entry barrier tersebut merupakan salah satu wujud janjinya tentang jargon “American First” yang cenderung proteksionis untuk mengembalikan kejayaan AS, termasuk memperkokoh sektor manufaktur yang merapuh.
Meski sektor perdagangan hanya berkontribusi 24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) AS, negeri itu menderita defisit perdagangan global lebih dari US$ 1 triliun. Sedangkan bagi Kanada, sektor perdagangan menyumbang 67% PDB, Meksiko 73% PDB, dan China 37% PDB.
Tarif baru yang diberlakukan AS membuat bea masuk produk Kanada ke AS yang semula hanya US$ 440 juta menjadi US$ 107 miliar per tahun dan barang asal Meksiko yang hanya terkena US$ 1,3 miliar bakal membengkak jadi US$ 132 miliar per tahun. Itu berdasar kajian Pricewaterhouse Coopers.
Kepala Ekonom Capital Economics Amerika Utara, Paul Ashworth menyatakan, kebijakan tarif AS terhadap Kanada, Meksiko dan Tiongkok hanyalah serangan pertama dalam perang dagang global yang sangat merusak. Dia menduga, Uni Eropa bakal kena giliran pada April.
Menurut Ashworth, dampak ekonominya akan signifikan bagi semua negara yang terkena. “Karena ekspor ke AS menyumbang sekitar 20% dari PDB mereka, tarif yang berlaku saat ini dapat menjerumuskan perekonomian Kanada dan Meksiko ke dalam resesi pada akhir tahun ini. Lonjakan inflasi AS akibat tarif ini dan tindakan-tindakan lain di masa depan akan terjadi lebih cepat dan lebih besar dari perkiraan awal kami,” urainya seperti dikutip CNBC, Senin (3/2/2025).
Penaikan tarif bea masuk perdagangan itu memang ironis, mengingat AS, Meksiko, dan Kanada terikat perjanjian perdagangan bebas negara-negara Amerika Utara atau USMCA. AS sendiri berkomitmen merevisi ketentuan perdagangan USMCA pada 2026.
Khusus dengan Kanada, Trump menyebut bahwa negara itu sebaiknya menjadi negara bagian ke-51 AS. Kanada dianggap "tidak lagi layak sebagai negara" lantaran subsidi besar-besaran yang diberikan AS.
Tindakan Balasan
Dalam perintah eksekutifnya, Trump menyatakan bahwa jika negara-negara yang dinaikkan tarif bea masuknya tersebut melakukan pembalasan, AS justru bakal "meningkatkan atau memperluas cakupan" tarif yang sudah diberlakukan.
Peringatan Trump tersebut tidak membuat mitra dagang yang diancam ciut nyali. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, justru segera memberlakukan tarif balasan sebesar 25% terhadap barang-barang AS senilai US$ 155 miliar, tak lama setelah pengumuman tarif Trump. Kanada pun berniat mencari alternatif rantai pasokan dari negara lain. “Sama seperti tarif Amerika, respons kami juga akan luas dan mencakup barang-barang sehari-hari,” kata Trudeau dalam jumpa pers Sabtu malam (2/2/2025).
Trudeau menyayangkan sikap Trump dan seharusnya hal itu tidak terjadi. "Ya, kita pernah memiliki perbedaan di masa lalu, tetapi kita selalu menemukan cara untuk mengatasinya. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, jika Presiden Trump ingin membawa Amerika Serikat ke era keemasan baru, jalur yang lebih baik adalah bermitra dengan Kanada, bukan menghukum kami," katanya.
Ontario menyatakan akan menarik semua produk alkohol Amerika dari rak toko minuman keras milik pemerintah mulai Selasa sebagai respons terhadap tarif tersebut. Outlet Liquor Control Board of Ontario juga akan menghapus produk AS dari katalognya sehingga pengecer lain tidak dapat memesan atau menyetok ulang barang-barang tersebut.
Sementara itu Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengecam tarif Trump dan mengatakan bahwa ia telah menginstruksikan menteri ekonomi untuk "melaksanakan Rencana B, yang mencakup langkah-langkah tarif dan nontarif untuk membela kepentingan Meksiko."
Dalam unggahan di X, Presiden Claudia menambahkan: "Kami dengan tegas menolak fitnah Gedung Putih terhadap Pemerintah Meksiko yang menuduh adanya aliansi dengan organisasi kriminal, serta segala niat untuk mencampuri wilayah kami“.
„Meksiko tidak menginginkan konfrontasi. Kami berangkat dari prinsip kerja sama antara negara-negara tetangga. Meksiko tidak hanya tidak ingin fentanyl masuk ke Amerika Serikat, tetapi juga tidak ingin masuk ke mana pun. Kita harus bekerja sama secara komprehensif, tetapi selalu dengan prinsip tanggung jawab bersama, kepercayaan timbal balik, kolaborasi, dan yang terpenting, penghormatan terhadap kedaulatan, yang tidak bisa dinegosiasikan,“ tegas Claudia.
Namun kabar terbaru dari Claudia Sheinbaum, Senin (3/2/2025), Trump bersedia menunda pemberlakuan tarif terhadap Meksiko selama sebulan. Itu berkat pembicaraan keduanya yang disebutnya „sangat baik“ dan keduanya siap bernegosiasi.
Reaksi berbeda dilakukan oleh Beijing. China mengatakan akan mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai respons terhadap tarif tersebut, serta "mengambil tindakan balasan yang diperlukan."
"Kenaikan tarif sepihak oleh AS ini secara serius melanggar aturan WTO, tidak menyelesaikan masalahnya sendiri, dan mengganggu kerja sama ekonomi dan perdagangan normal antara China dan AS," sebut Kementerian Perdagangan China dalam sebuah pernyataan.
Surplus neraca perdagangan China dengan AS mencapai US$ 1 triliun pada 2024. Tidak mengherankan jika China lebih berhati-hati di dalam menanggapi persoalan ini karena mereka tidak ingin kehilangan pasar yang besar. Fakta bahwa China tidak langsung meningkatkan eskalasi memberikan harapan bahwa masih ada ruang untuk menghindari perang dagang besar antara kedua negara.
Menanggapi tuduhan Trump bahwa China membiarkan penyelundupan fentanyl, Kementerian Luar Negeri China mengatakan, fentanyl adalah masalah internal AS. "China mendesak AS untuk mengambil pendekatan yang objektif dan rasional terhadap masalah domestiknya, termasuk fentanyl, daripada menggunakan ancaman tarif terhadap negara lain," katanya.
Uni Eropa Giliran Berikutnya
Setelah tiga negara mitra dagang utama, Trump bakal mengenakan bea masuk terhadap produk Uni Eropa. Selain itu, Trump mengancam BRICS dengan kenaikan tarif 100% jika blok baru BRICS menerapkan penggunaan mata uang non-dollar AS atau mata uang baru untuk transaksi perdagangan (dedolarisasi).
Uni Eropa mengatakan bahwa mereka "menyesali" keputusan AS untuk memberlakukan tarif terhadap Kanada, Meksiko, dan China, dan akan "merespons dengan tegas" jika Trump memberlakukan tarif terhadap UE, menurut seorang juru bicara Komisi Eropa.
Presiden Trump sendiri berulang kali mengritik Uni Eropa yang dinilai tidak adil dalam hubungan perdagangannya dengan AS. Pernyataan terakhir disampaikan lewat pidato virtual dalam gelaran Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (23/01/2025), tiga hari setelah pelantikannya sebagai presiden. "Dari sudut pandang Amerika, UE memperlakukan kami sangat, sangat tidak adil, sangat buruk," kata Trump.
.
Trump menuding bahwa UE mempersulit masuknya produk pertanian dan mobil dari AS. Namun UE berhasil menjual jutaan mobil ke pasar AS. “Kami memiliki ratusan miliar dolar defisit dengan UE, dan tidak ada yang senang dengan itu. Kami akan melakukan sesuatu tentang hal itu,” tegas Trump.
Pada Desember 2024, Trump mengancam UE akan menghadapi tarif penuh kecuali jika mereka meningkatkan pembelian minyak dan gas AS.
Sekitar 20% ekspor negara-negara Uni Eropa tertuju ke Amerika Serikat. Defisit perdagangan terbesar AS dengan UE ada di bidang mesin dan kendaraan, senilai US$106 miliar pada 2023. Tapi dalam bidang energi, AS surplus dengan blok Eropa senilai 70 miliar euro.
Dampak Global
Bank Dunia melakukan kajian simulasi bahwa peningkatan tarif impor AS sebesar 10% terhadap semua mitra dagang akan mengurangi pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% tahun ini. “Perhitungan ini dilakukan dengan asumsi tidak ada tindakan pembalasan,” tulis Bank Dunia dalam laporan berjudul Global Economic Prospect edisi Januari 2025.
Menurut para ekonom, perekonomian AS akan terganggu karena semua rantai pasok, mulai dari energi, mobil, dan makanan, bakal bergejolak. ”Biaya impor yang lebih tinggi kemungkinan akan mengurangi pengeluaran konsumen dan investasi,” kata Kepala Ekonom Ernst and Young, Gregory Daco.
Inflasi AS diprediksi bakal naik sebesar 0,7% pada kuartal pertama tahun ini sebelum berangsur-angsur mereda. Harga berbagai barang mulai dari mobil dan elektronik hingga mainan dan makanan bakal terkerek naik. Kenaikan inflasi tentu akan membuat Bank Sentral AS berpikir ulang menurunkan suku bunga lanjutan.
Tindakan tarif yang diterapkan secara luas dapat meningkatkan biaya bisnis, merugikan pekerja dan konsumen. Tarif menciptakan gangguan ekonomi yang tidak perlu dan mendorong inflasi. Ini merugikan semua pihak.
Dengan jargon American First, Trump memang ingin memproteksi pelaku usaha di negerinya. Upaya untuk membenahi ekonomi domestiknya dilakukan dengan proteksionisme, deregulasi, dan pemangkasan pajak. Trump juga akan memperkuat manufaktur AS.
Bagaimana dengan Indonesia?
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Teknologi dan Transformasi Digital, Teguh Anantawikrama menilai jargon America First sekadar slogan politik yang menandakan kalibrasi ulang peran Amerika Serikat dalam tatanan internasional. AS di bawah komando Trump menekankan unilateralisme dibandingkan multilateralisme, fokus pada kepentingan nasional ketimbang kerja sama global.
Indonesia dengan keunggulan strategis dan potensi yang belum dimanfaatkan, kata Ananta, dapat menggunakan momen ini untuk mempercepat pertumbuhan dan pengaruh di kancah global. Misalnya, Indonesia perlu mengambil peran kepemimpinan yang proaktif dalam inisiatif regional –karena kekosongan dalam kepemimpinan global. Indonesia dapat membentuk masa depan Asia Tenggara di bidang perdagangan, keamanan, dan inovasi, serta memastikan kepentingannya berada di garis depan kebijakan regional.
Kebijakan Trump makin membuat dunia terfragmentasi. Untuk itu, lanjut Ananta, Indonesia harus memanfaatkan keikutsertaan dalam BRICS, guna memperkuat kemitraan anggota untuk membuka pintu menuju pasar baru, investasi, dan transfer teknologi. “Indonesia harus mengintensifkan upaya diversifikasi mitra perdagangan dan investasi, terutama dengan Uni Eropa, Afrika, dan Amerika Latin,“ tuturnya.
Peluang lainnya adalah menangkap investor yang hendak mencari alternatif produksi selain Tiongkok atau relokasi industri dari Negeri Tirai Bambu itu. Untuk itu, diperlukan reformasi kebijakan, perbaikan infrastruktur, dan insentif.
Sedangkan peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Sahara menyatakan, kebijakan tarif impor yang diterapkan AS terhadap mitra dagang utama tidak akan berdampak besar terhadap ekspor Indonesia. Dengan menggunakan model keseimbangan umum antarnegara, ekspor Indonesia berpotensi meningkat 0,042% dan PDB naik 0,002%.
Indonesia selama ini selalu meraih surplus perdagangan dengan AS. Selama 11 bulan pertama 2024, Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 16,8 miliar. Sedangkan dengan China, Indonesia selalu tekor dengan defisit sebesar US$ 11,4 miliar pada periode yang sama. Sebagai negara berkembang, selama ini Indonesia mendapat keistimewaan (bea masuk rendah bahkan nol) masuk pasar AS dengan fasilitas Generalized System of Preference (GSP) yang mencakup 3.500-an produk. Tapi fasilitas itu berakhir pada 2020 dan Indonesia menunggu hasil review oleh AS untuk perpanjangan.
Adapun dari sektor keuangan, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana berpendapat, sikap proteksionisme AS akan memicu pelarian arus modal ke AS dan mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah. “Secara historikal, era Trump sebelumnya membuat IHSG cenderung tertekan dan bergerak volatil," kata dia kepada investortrust.id.
Sependapat dengan Herditya, Analis Pasar Modal sekaligus Founder WH Project William Hartanto menilai pemerintahan Donald Trump kemungkinan akan menciptakan volatilitas pasar saham, mengingat di periode pertamanya Trump banyak membuat kebijakan yang meningkatkan ketidakpastian pasar.
"Hal yang sama diestimasikan bisa terjadi lagi, sehingga pergerakan IHSG akan mengalami volatilitas tinggi sebagai repons pelaku pasar terhadap pelantikan Trump. Trump juga bisa menciptakan berlanjutnya outflow dari pasar saham, karena pemerintahannya fokus pada kemajuan Amerika dan itu bisa membuat minat investor asing beralih kembali ke sana," ucap William kepada investortrust.id.
Berbagai dinamika global yang terjadi kian menguatkan narasi soal ketidakpastian dan kemuraman. Indonesia jangan hanya menjadi penonton. Pemerintah harus fokus pada upaya memperbaiki perekonomian dan memperbaiki iklim bisnis.
Itu penting agar energi tidak habis dikerjain oleh pengusaha dan aparat negara nakal yang bukan berpikir “Indonesia First”, tapi “Indonesia First Class”. Yang hanya menguntungkan segelintir orang tapi menyengsarakan rakyat, sehingga kesenjangan bakal kian mengerikan. (Tim investortrust, dari berbagai sumber). ***

