Rupiah ‘Rebound’ ke 16.225/USD dalam Penutupan Perdagangan Senin (3/6)
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah berhasil rebound dalam penutupan perdagangan Senin (3/6/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menguat 26 poin ke level Rp 16.225/USD usai sebelumnya berada di posisi 16.251/USD (31/5/2024).
Sementara di pasar spot seperti dilansir Yahoo Finance hingga pukul 16.30 WIB mata uang Garuda juga bergerak ke level Rp 16.225/USD atau menguat 19 poin dari penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp 16.244/USD.
Analis rupiah sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyorot perihal rilis data fundamental Amerika Serikat (AS) yang berpengaruh terhadap pergerakan indeks dolar.
Salah satunya yakni mengenai indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang meningkat 0,3% bulan lalu. Ibrahim turut mengutip pernyataan Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS, pada Jumat (31/5/2024) waktu setempat, yang menyebutkan angka itu menyamai kenaikan yang belum direvisi pada bulan Maret.
"Pembacaan inflasi utama yang selaras membuat para pedagang meningkatkan posisi untuk penurunan suku bunga oleh Federal Reserve pada bulan September," ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (3/6/2024).
Sebelumnya The Fed telah menaikkan biaya pinjaman sebesar 525 basis poin sejak Maret 2022 dalam upaya untuk mengurangi permintaan di seluruh perekonomian.
Ibrahim menyorot pasar keuangan yang awalnya memprediksi penurunan suku bunga pertama akan terjadi pada bulan Maret lalu, namun kemudian diundur ke Juni dan sekarang ke September.
Baca Juga
Ekonom Citi: Ini akan Terjadi Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga
"Fokus minggu ini adalah pada keputusan suku bunga di Eropa dan Kanada," sambungnya.
Sementara itu baik Bank Sentral Eropa maupun Bank Sentral Kanada diprakirakan akan mulai memangkas suku bunga, yang berpotensi memicu pelonggaran moneter di seluruh dunia. The Fed juga akan mengadakan pertemuan minggu depan, meskipun bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Selain itu, data PMI swasta Tiongkok pada hari Senin menunjukkan bahwa sektor manufaktur di negara tersebut tumbuh lebih dari yang diperkirakan pada bulan Mei dan meningkat selama tujuh bulan berturut-turut.
Namun hal ini sangat kontras dengan data PMI resmi minggu lalu, yang menunjukkan kontraksi tak terduga di sektor manufaktur.
Sementara pagi (3/6/2024) tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat inflasi Indonesia pada Mei 2024 mencapai 2,84% YoY. Nilai ini lebih rendah dibandingkan posisi April sebesar 3%.
Sedangkan secara bulanan, Indonesia pada Mei 2024 mengalami deflasi. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan harga pangan dan energi.
"Kemudian, momen Ramadan dan Idulfitri yang telah usai membuat harga sektor pangan mengalami deflasi," tandas Ibrahim.

