Kunjungi Pabrik, Gobel: Industri Tepung Singkong Juga Bisa Hasilkan Devisa
JAKARTA, investortrust.id –Wakil Ketua DPR RI Bidang Korinbang Rachmat Gobel mengatakan, kita harus terus mengembangkan keragaman bahan pangan sekaligus bisa mengembangkan industri yang menghasilkan devisa. Salah satu yang potensinya besar adalah singkong dan tepung singkong.
“Pertanian dan industri pangan bukan saja penting bagi ketahanan dan kedaulatan pangan. Sektor ini juga sangat signifkan dalam membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan, membangun kesejahteraan masyarakat, dan berpotensi menghasilkan devisa ekspor,” katanya dalam keterangan pada Jumat (24/5/2024), usai mengunjungi pabrik pembuatan tepung singkong atau tapioka di Pangkal Pinang, Bangka.
Baca Juga
Rachmat Gobel mengatakan, ia memiliki kepedulian sejak lama terhadap masalah pertanian, pangan, ekonomi berbasis budaya, lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan membangun kesejahteraan masyarakat. Hal itu sudah dilakukan termasuk saat menjadi pengurus Kadin Indonesia, saat menjadi menteri perdagangan, dan kini setelah menjadi anggota DPR RI.
Kapasitas Pabrik 6.000 Ton
Gobel menuturkan, ia berkali-kali melakukan uji coba pertanian, melakukan kunjungan kerja di bidang-bidang tersebut, dan menyuarakan isu-isu tersebut. Di hari libur nasional pun, ia melakukan kunjungan kerja ke Bangka.
Gobel mengunjungi pabrik tepung singkong bermerek Gunung Pelawan, yang diproduksi PT Langit Bumi Lestari. Pabrik berlokasi di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
Kapasitas terpasang pabrik tapioka ini 6.000 ton per bulan. Jumlah karyawan perusahaan mencapai 60 orang. Pabrik juga membina sekitar 1.500 petani, dengan luas lahan sekitar 2.000 hektare.
Listrik Biogas 1 MW
Selain memproduksi tepung singkong, perusahaan tersebut juga memproduksi tepung sagu. Dari tepung sagu ini, mereka memproduksi mi dari tepung sagu, yang gluten free dan indeks glikemik sangat rendah, sehingga sangat baik bagi kesehatan.
“Tepung singkong dan tepung sagu jauh lebih sehat buat tubuh. Ini karena kandungan glikemik yang rendah dan gluten free,” kata Fitrianto, pemilik pabrik tersebut.
Baca Juga
Berbalik Arah, Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan I 2024 Defisit US$ 6,0 Miliar
Fitrinto mengatakan, pabrik tepungnya sudah menerapkan green industry, zero waste concept, self sufficiency energy, dan recycle water usage. Limbah cairnya dijadikan biogas, yang menghasilkan sekitar 1 megawatt listrik.
“Listrik di pabrik ini dari biogas tersebut. Sedangkan limbah padatnya digunakan untuk pakan sapi. Di belakang pabrik terdapat peternakan sapi,” katanya.
Ia menjelaskan, di lahan pabrik seluas 40 hektare tersebut juga ditanami Indigofera sehingga kawasan menjadi hijau. Selain itu, dibangun kolam-kolam penampungan air.
Daun Indigofera ini sangat baik untuk pakan sapi. “Sapi menjadi tumbuh lebih cepat dan gemuk,” katanya.
Ancaman Krisis Pangan Dunia
Gobel mengatakan, dunia sedang dihadapkan pada ancaman krisis pangan. Hal itu terjadi akibat naiknya populasi penduduk dunia, climate change, makin terbatasnya lahan, serta konflik-konflik geopolitik dan menegangnya hubungan sejumlah negara.
Semua itu berdampak terhadap naiknya kebutuhan pangan, terganggunya produksi pertanian, dan terganggunya rantai pasok. Saat ini, Indonesia sudah merasakannya.
“Kita mengaku negara agraris. Tapi, berasnya impor dalam jumlah yang relatif besar,” katanya.
Selain itu, Indonesia sudah lama mengimpor tepung singkong dan menjadi nett importer untuk tepung gandum. Karena itu, ia mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi lebih cepat terhadap persoalan pangan ini. Apalagi, jumlah penduduk Indonesia cukup besar.
Gobel pun membandingkan Indonesia dengan India dan Cina. Kedua negara ini mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
Bahkan, Indonesia impor beras dari mereka. Padahal, iklim Cina dan India sebagian tropis dan sebagian lagi subtropis.
Jumlah penduduk mereka juga sangat besar dibandingkan dengan Indonesia, mereka sekitar 1,5 miliar. Namun, ternyata mereka bisa lebih baik dari Indonesia.
“Jadi, pasti ada yang salah pada kita. Padahal iklim kita lebih ramah, tanahnya subur, lahannya luas, dan jumlah penduduknya jauh lebih sedikit,” katanya.
Karena itu, kata Gobel, Indonesia harus berbenah dalam produksi pangan dan mencari berbagai alternatif sumber pangan. Singkong adalah salah satu yang bisa dikembangkan.
Singkong juga lebih sehat dari beras dan gandum, dilihat dari sisi indeks glikemik dan kandungan gluten. Hal ini sangat bagus untuk mengontrol kadar gula di dalam tubuh.
“Singkong dan sagu tidak mengandung gluten. Indeks glikemik sagu dan singkong juga lebih rendah dibandingkan dengan beras dan gandum, yaitu sagu 40, singkong 46, gandum 55-69, dan beras 64,” katanya.
Gobel mengatakan, banyak orang tidak menyadari bahwa tepung singkong dan modifikasi tepung singkong merupakan bahan sangat penting dalam berbagai produk makanan. Ini seperti bakso, nuget, mi, dan beragam produk makanan lainnya.
“Karena itu, tanpa terasa kita menjadi importir besar untuk tepung singkong. Ada banyak negara lain yang merupakan nett importer atau importir besar tepung singkong, seperti Jepang, Filipina, dan Cina,” katanya.
Tepung singkong juga bisa menjadi bahan kertas, plastik organik, sedotan, dan beragam wadah. Selain untuk ketahanan pangan nasional, lanjut dia, singkong bisa menjadi penghasil devisa.
Jadi, tandas Gobel, membangun pertanian pangan ini juga bagian dari pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja yang besar, dan membangun kesejahteraan masyarakat. Ia pun sudah melakukan uji coba bertanam singkong di Gorontalo, dan hasilnya luar biasa. Per batang bisa menghasilkan 25 sampai 30 kg, padahal biasanya sekitar 2 sampai 8 kg saja.
“Jadi, ini sangat layak untuk dikembangkan. Yang penting dibangun ekosistemnya sehingga pupuk tersedia, lahan tersedia, pendanaan tersedia, dan penyerapannya terjamin. Insya Allah ini bisa menjadi solusi banyak hal,” katanya. (pd)

