Rivalitas Geopolitik Munculkan Fenomena ‘Friendshoring’ dan ‘Decoupling’ Teknologi
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan menyebut fenomena friendshoring dan technology decoupling akan memengaruhi perdagangan global. Dua terminologi ini, kata dia, juga akan mempengaruhi kondisi perdagangan ekspor impor di Indonesia.
“Dua terminologi yang sekarang menjadi tren, yaitu friendshoring dan technology decoupling, intinya ‘kalau lu bukan teman gue, lu nggak usah dagang sama gue’,” kata Kasan, di Gambir Trade Talk#4 yang digelar daring, Rabu (15/5/2024).
Kasan mengatakan secara global, kondisi ini memengaruhi struktur rantai pasok global. Melihat kondisi Indonesia, dia berasumsi dua terminologi ini telah membuat perdagangan Indonesia beberapa bulan terakhir mengalami perlambatan.
“Dari beberapa lembaga, neraca ekspor impor Indonesia masih surplus, tapi menurun dari bulan lalu dan impor akan mengalami kenaikan,” kata dia.
Peneliti Economic Research Institute for Asean and East Asia (ERIA) David Christian mengatakan ada lima latar belakang munculnya fenomena friendshoring dan technology decoupling ini muncul. Pertama, isu ini muncul setelah terjadinya krisis finansial global pada 2008 yang membuat pelaku pasar mulai meragukan gagasan globalisasi.
“Dengan adanya tanda-tanda perlambatan globalisasi pada 2010, publik mulai ragu apakah manfaat dari perdagangan inklusif,” kata David, di forum yang sama.
Baca Juga
Konflik Laut Merah Diprediksi Bikin Rantai Pasokan Terganggu hingga Beberapa Bulan
Faktor kedua yang menjadi latar yakni pengembangan teknologi di China. Sejak mengembangkan manufaktur teknologi, kata David, China menjadi raksasa perdagangan dunia dengan memasok 1/3 output manufaktur global.
“Dengan perkembangan teknologi dan peran research and development, serta kompleksitas produk yang levelnya meningkat, China menjadi negara di top 3 di dunia yang bersaing dengan Amerika Serikat (AS)” ujar dia.
Ketiga, kata David, yaitu kemunculan rivalitas AS dan China. David mengatakan rivalitas ini mulai memuncak setelah Donald Trump menjabat sebagai presiden AS. Rivalitas ini diwarnai dengan dampak kebijakan yang berlandaskan nasionalisme.
Friendshoring dan technology decoupling ini juga muncul menyusul terjadinya disrupsi rantai pasok global yang didorong tiga peristiwa besar, yakni tsunami Jepang, pandemi Covid-19, dan perang Rusia dan Ukraina.
“Peristiwa ini menunjukkan cara memaksimalkan efisiensi produksi terhadap kondisi yang fragile terhadap salah satu region atau jaringan terlemahnya,” kata dia.
Dari peristiwa tersebut, David mengatakan, publik mulai mendorong diversifikasi rantai pasok, agar tidak tergantung pada satu negara pemasok.
David mengatakan faktor kelima yang menjadi latar terjadinya Friendshoring dan technology decoupling yaitu berkembangnya argumen keamanan nasional, yang mendorong diterapkannya kebijakan industri yang berorientasi ke dalam negeri.
“Kebijakan untuk mandiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara lain,” ujar dia.

