Kehadiran Prabowo di Parade Militer Beijing dan Posisi Strategis RI di Tengah Rivalitas Global
Poin Penting
|
Jakarta, investortrust.id – Presiden Prabowo Subianto telah kembali ke Tanah Air dalam lawatannya yang hanya berlangsung selama 8 jam di Beijing, China. Presiden Prabowo memenuhi undangan dari Presiden China Xi Jinping untuk menghadiri Parade Militer Peringatan 80 Tahun Kemenangan Tiongkok pada Perang Dunia tahun 1945 di Kompleks Istana "The Forbidden City", Beijing, Rabu, (3/9/2025).
Posisi Strategis Prabowo dan Indonesia
Keberangkatan mendadak Presiden Prabowo Subianto yang didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menuju Beijing cukup mengejutkan karena pada Sabtu (30/8/2025), Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, memberikan keterangan bahwa Presiden Prabowo akhirnya mengurungkan niatnya memenuhi undangan Presiden Xi, karena ingin memantau dinamika dan situasi di tanah air, yang sempat diguncang demo di beberapa daerah selama beberapa hari terakhir.
Jika diselisik lebih lanjut, kehadiran Prabowo pada detik-detik terakhir dan hanya berlangsung singkat di Beijing menunjukkan pentingnya undangan dari Presiden Xi kepada Prabowo. Menurut pengamatan Aris Heru Utomo, Konsul RI di Tawau, Malaysia, dan pengajar Utama Pancasila seperti dikutip dari Kompas.com, menjelaskan bahwa sebanyak 26 pemimpin negara dan perwakilan asing lainnya bergabung dengan Presiden Xi Jinping dalam parade militer yang digelar di jalan utama Tiananmen Square.
Yang paling mencolok adalah kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yang jarang menghadiri kunjungan ke luar negeri. Putin dan Jong Un tampak mengapit Xi saat mereka berada di balkon Gerbang Tiananmen untuk menyaksikan peragaan alutsista dan pasukan yang berbaris, dan posisi Presiden Prabowo berdiri persis di samping kanan Putin.
Ketidakhadiran pemimpin AS, Eropa Barat, India dan beberapa pemimpin negara Asia Tenggara, – terutama Presiden Filipina pasca insiden tabrakan antara kapal patroli pantai China dengan Kapal Perang China saat mengejar kapal patroli Filipina di perairan Spratley, Laut China Selatan, semakin menguatkan kesan "sebuah persatuan baru tanpa negara-negara Barat" dan juga memperlihatkan pengaruh Tiongkok di antara negara-negara Selatan.
Seperti ditulis analis Brad Lendon Dari CNN, pada 3 September 2025, "Parade tersebut tidak sekadar ritual perayaan kemenangan, melainkan pesan politik yang kuat. Pertunjukan persenjataan yang sengaja dibuat menakutkan, dirancang untuk menyampaikan pesan bahwa visi Xi Jinping akan ditopang oleh kekuatan militer berteknologi tinggi."
Kehadiran, diundangnya dan posisi duduk (dan berdirinya) Presiden Prabowo dalam rangkaian parade militer tersebut bisa diartikan sebagai mitra strategis bagi China dalam menjaga kanal komunikasi, mitra dagang terbesar, tujuan utama investasi dan pasar yang penting bagi komoditas bagi kedua negara, tulis Aris Heru.
China di sisi lain juga memerlukan "sahabat senior" di ASEAN, –Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang saat ini menjabat sebagai presidensi ASEAN juga hadir–, dalam upaya mendukung klaimnya terhadap Laut China Selatan. Meskipun di hari yang sama, kapal milik China 'Nan Feng' telah melakukan operasi survei intrusif di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Natuna Indonesia dan Perairan Serawak Malaysia sejak 28 Agustus 2025 tanpa klarifikasi/ijin.
Perkembangan Pesat Militer China
Dalam parade itu, tak hanya Presiden Prabowo Subianto, jutaan mata di dunia melihat bagaimana peralatan militer China berkembang sangat pesat, termasuk jet-jet tempurnya yang belakangan menuai reputasi pada pertempuran singkat antara Pakistan dan India. Para analis melihat perkembangan teknologi misil dan penerbangan militer China pada parade ini sebagai bagian yang penting di mana sebelumnya kekuatan Angkatan Darat China telah mengesankan para pengamat.
Seperti dikutip dari Defence Blog, Andreas Rupprecht, seorang pengamat terkemuka yang berfokus pada penerbangan militer China mengatakan bahwa skala latihannya–Angkatan Udara China, saja sudah melebihi dugaan.
"Sejujurnya – dengan hanya berfokus pada segmen aviasi dan apa yang akan dipamerkan oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina– latihan untuk parade saja sudah melebihi dugaan dari yang diharapkan para pengamat–selain kehadiran pembom siluman H-20 (yang bisa menjadi sensasi)," katanya.
Berikut beberapa senjata yang dipamerkan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok di depan umum, sebuah pertunjukan langka yang menunjukkan kehebatan dan kemampuannya yang semakin meningkat untuk memproyeksikan kekuatan jauh dari pesisir negara.
Misil Balistik, Hipersonik dan Konvensional
Bila negara-negara lain lazimnya memiliki tiga matra angkatan dalam militernya,– Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Angkatan Darat, maka China memilik angkatan keempat; Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat yang khusus mengendalikan peluru kendali dan roket. China memiliki persenjataan rudal darat terbesar di dunia.
Rudal-rudal tersebut termasuk rudal jarak jauh berbasis udara Jinglei-1, rudal antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam Julang-3, dan rudal antarbenua berbasis darat Dongfeng-61 (DF-61) dan Dongfeng-31 - senjata yang merupakan kekuatan "asli" strategis Tiongkok untuk menjaga kedaulatan dan martabat negara, lapor Xinhua.
Dongfeng-5C (DF-5C) yang juga ditampilkan pada hari Rabu adalah versi terbaru dari program rudal balistik antar benua (Intercontinental Ballistic Missile/ICBM) yang dimulai Tiongkok pada tahun 1970-an. Rudal ini berbahan bakar cair dan mampu melepaskan beberapa hulu ledak independen pada satu target. Dongfeng-5C disebutkan mampu menjangkau target-target strategis di wilayah AS dan Eropa Barat dengan jangkauan jelajahnya yang mencapai 13.000 hingga 16.000km.
Karena itu Dongfeng ini juga dijuluki "Guam Killer" karena mampu mencapai pangkalan militer AS di Guam, Pasifik. Kecepatannya? Jangan ditanya, entah bisa disergap atau tidak, yang pasti sumber dari situs resmi pemerintah China menyebutkan Dongfeng ini mampu melesat hingga 26.950km/jam atau 22 kali kecepatan suara (Mach 22).
Pada parade tersebut PLA juga menampilkan rudal antikapal hipersonik yang sebelumnya telah diuji terhadap tiruan kapal induk AS,– hal ini menunjukkan keseriusan Beijing dalam menghadapi hegemoni AS di kawasan. Rudal-rudal tersebut termasuk Yingji-19, Yingji-17, dan Yingji-20. Rudal-rudal ini memiliki kecepatan hipersonik dan manuver yang sulit ditebak untuk menghindari sistem pertahanan anti misil.
Rudal lain yang ditampilkan termasuk rudal jelajah - Changjian-20A, Yingji-18C, Changjian-1000 - dan rudal hipersonik lainnya, Yingji-21, Dongfeng-17, dan Dongfeng-26D, yang menurut media pemerintah Tiongkok dilengkapi dengan "kemampuan tempur segala cuaca".
Senjata Laser
Pendiri Kompas, PK Ojong dalam bukunya "Perang Pasifik" menuliskan bahwa setiap senjata baru dari pihak lawan, akan memicu sebuah teknologi baru untuk menangkalnya. Demikian pula China yang belajar dari peperangan Ukraina di mana ribuan kendaraan militer lapis baja termasuk tank tempur utama dengan harga jutaan dolar bisa hancur hanya dengan beberapa drone kamikaze dengan harga hanya beberapa ratus ribu dolar.
Beijing telah mengembangkan senjata laser sebagai pertahanan terhadap serangan pesawat tanpa awak (drone). Rangkaian lengkap sistem antidrone yang dipamerkan di parade tersebut meliputi meriam rudal, senjata laser berenergi tinggi, dan senjata gelombang mikro berkekuatan tinggi. Media pemerintah mengatakan bahwa hal itu mewakili "tiga serangkai" dalam sistem anti-drone Tentara Pembebasan Rakyat.
Drone
Meski berhasil membuat senjata anti-drone, namun Tiongkok masih memandang drone sebagai senjata yang mematikan saat ini dengan harga yang sangat murah. Pada parade tersebut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok memamerkan drone yang dapat beroperasi di bawah air dan di udara, termasuk drone yang dapat digunakan untuk pengintaian dan menyerang target.
Tiongkok juga memamerkan helikopter tanpa awak yang dirancang untuk diluncurkan dari kapal, AR2000. Menurut informasi yang dirilis pada parade tersebut, helikopter nirawak ini dapat melakukan "penerbangan siluman, jangkauan area yang luas, koordinasi otonom dan pembagian data intelijen, yang menjadi pelopor konsep baru untuk pertempuran laut di masa depan."
Sumber-sumber Tiongkok menekankan bahwa drone helikopter tersebut dapat membawa berbagai rudal jarak pendek yang diluncurkan dari udara. Dengan mengintegrasikan senjata-senjata tersebut ke dalam platform pesawat nirawak yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat telah memperoleh kemampuan untuk mengerahkan sistem serang dari kapal-kapal yang mungkin tidak memiliki kapasitas untuk menampung pesawat-pesawat besar.
Ada beragam drone, beberapa di antaranya dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI), namun yang paling membuat mata terbelalak adalah drone kapal selam raksasa AJX-002.
Drone ini juga dikenal sebagai wahana bawah air tanpa awak ekstra besar (XLUUV) dengan panjang hingga 20 m (65 kaki), drone ini diperkirakan dapat melakukan misi pengawasan dan pengintaian. Selain drone kapal selam, ada pula drone serang siluman GJ-11, yang dijuluki "loyal wingman", yang dapat terbang bersama jet tempur berawak dan membantu dalam serangan.
Selain serangkaian drone udara konvensional, terdapat juga "serigala robot". Para ahli mengatakan drone-drone ini dapat digunakan untuk berbagai tugas, mulai dari pengintaian dan pembersihan ranjau, hingga memburu tentara musuh.
Pameran drone ini menunjukkan arah yang jelas yang ingin diadopsi Tiongkok dalam strategi militernya, di mana Tiongkok "tidak hanya ingin menambah, tetapi juga mengganti struktur tradisional".
Jet Tempur
Cina telah mengungkapkan jet jet tempur tercanggihnya pada parade sebelumnya, terutama pada tahun 2019 saat Peringatan Hari Republik yang ke-70. Kemudian menyusul jet tempur siluman J-20, J-16, J-10C, pesawat transport Y-20, pesawat tanker YY-20A dan pembom H-6N ditampilkan pertama kali bersama drone-drone seperti WZ-8 dan GJ-11. Kini, pesawat-pesawat tempur tersebut telah rutin tampil dan tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Menurut Rupprecht, salah satu pengembangan terbesar tahun ini adalah konfirmasi tampilnya J-20A dan varian kursi ganda J-20AS pada parade dan telah aktif berdinas di Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLAAF). "Tapi kemudian –penampilan J20, telah dilampaui oleh beroperasinya J-35A dalam Layanan PLAAF dan versi angkatan laut J-35," tuturnya.
Yang tak kalah penting adalah kemunculan pesawat peringatan dini udara angkatan laut KJ-600 dan beberapa varian canggih dari pesawat tempur berbasis kapal induk J-15 seperti J-15DH, varian peperangan elektronik J-15DT dan J-15T yang mampu melontarkan rudal jarak jauh PL-15. Tak ketinggalan juga pesawat angkut Y-20B yang telah ditingkatkan dan pesawat peperangan elektronik J-16D masuk dalam jajaran pesawat-pesawat yang akan tampil.
Namun, Rupprecht mengingatkan bahwa penampilan jet tempur canggih ini bisa juga teralihkan oleh sistem yang lebih canggih. “Sayangnya, pesawat seperti KJ-500A dan pesawat perang elektronik lainnya seperti Y-9Z (GX-12), Y-9LG (GX-13), dan juga Y-9QF (GX-15) yang baru, pesawat anti-kapal selam paling modern, sepenuhnya tertutupi oleh tampilnya misil balistik, misil hipersonik dan drone,” ujarnya.
Yang mungkin menarik perhatian lebih lanjut, kata Rupprecht, adalah kendaraan udara tempur tak berawak (UCAV). “Pertama-tama, ada lagi UCAV GJ-11 – termasuk versi angkatan laut GJ-11J (GJ-21) – dan terakhir CCA/UCAV, yang baru-baru ini dipamerkan untuk pertama kalinya, masih tersembunyi dengan hati-hati di bawah terpal, yang mungkin menampilkan hingga empat jenis berbeda.”
Industri pertahanan Tiongkok telah mengembangkan kemampuan penerbangannya dengan pesat selama dua dekade terakhir, dengan tujuan menantang dominasi Barat dalam pesawat berawak maupun nirawak. Bagi para pengamat dan analis OSINT, parade ini merupakan kesempatan untuk mengonfirmasi platform yang telah lama dirumorkan dan mengevaluasi integrasinya ke dalam struktur militer Tiongkok.
"Secara keseluruhan, ini sungguh sensasional dan merupakan harta karun berupa sistem baru bagi semua spesialis OSINT," pungkas Rupprecht.
Parade ini, yang diharapkan akan menyoroti sistem tradisional maupun mutakhir, menggarisbawahi upaya Beijing untuk memproyeksikan kekuatan di berbagai domain. Bagi para pesaing regional—termasuk Jepang, Taiwan, dan Filipina—demonstrasi ini akan dicermati secara ketat untuk mengungkap strategi militer Tiongkok yang terus berkembang.
Parade militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok ini menyiratkan pesan kuat kepada negara-negara barat termasuk AS tentang sebuah front persatuan yang kuat (China, Rusia, Korea Utara dan negara-negara Selatan lainnya termasuk Indonesia).
Video: Courtesy of Associated Press Youtube Channel
Michael Raska, asisten profesor dalam program transformasi militer di Universitas Teknologi Nanyang Singapura memiliki pandangan sebagai berikut: "Parade tersebut merupakan promosi penjualan senjata – dan kesempatan untuk menunjukkan kepada AS sebuah front persatuan." tuturnya seperti dikutip dari BBC.
Beberapa negara yang hadir seperti Myanmar diketahui telah membeli senjata Tiongkok dalam jumlah besar. Namun, bagaimana meningkatkan peluang untuk menjual kepada pelanggan baru atau membuka pesanan dari negara baru juga sangat tergantung dari bagaimana pemerintah Tiongkok dapat memperluas pengaruhnya secara global, catat Dr. Raska.
Di antara klien-klien utama terdapat mereka yang berdiri di depan dan tengah bersama Xi – Vladimir Putin dan Kim Jong Un.
Terlepas dari pendapat para pengamat, kemampuan Beijing dalam memodernisasi militernya menimbulkan kekaguman sekaligus memancarkan efek "deterrent', agar "jangan macam-macam dengan kami". Hal ini bisa saja menular kepada negara tetangganya termasuk Indonesia, di mana pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, TNI juga sedang gencar memodern-kan alutsista dengan mendatangkan berbagai senjata dari luar negeri dan sebagian diproduksi di dalam negeri.
Sebuah pekerjaan rumah bagi Presiden Prabowo dan presiden Indonesia berikutnya untuk membangun sebuah ekosistem industri pertahanan termasuk rantai pasok baik dari segi bahan baku maupun riset dan teknologi di dalam negeri yang independen.

