Ekonom: ‘Friendshoring’ Bukti Lemahnya Sikap WTO
JAKARTA, investortrust.id - Peneliti Economic Research Institute for Asean and East Asia (ERIA) David Christian mengatakan fenomena friendshoring muncul karena lemahnya peran World Trade Organization (WTO). Dia mengatakan proses kerja sama secara multilateral mengalami kemandekan.
Sekadar informasi, friendshoring mengacu pada pengalihan rute rantai pasokan ke negara-negara yang dianggap aman secara politik dan ekonomi atau berisiko rendah, untuk menghindari gangguan terhadap arus bisnis.
“Ini karena WTO tidak di-reformed, sehingga orang-orang kehilangan kepercayaan kepada sistem multilateral,” ujar David di Gambir Trade Talk#4 yang digelar daring, Rabu (15/5/2024).
David mengatakan friendshoring terlihat dari gencarnya pembentukan free trade agreement (FTA) antara sejumlah negara. “FTA yang eksisting sudah mencerminkan konfigurasi politik yang eksisting juga,” kata dia.
NamunDavid menyebut bahwa friendshoring tidak akan terlalu banyak menciptakan blok-blok perdagangan baru. Pasalnya semua perdagangan sudah interconnecting dengan dua negara krusial Amerika Serikat (AS) dan China yang memegang peran sentral di rantai pasok global.
Baca Juga
Rivalitas Geopolitik Munculkan Fenomena ‘Friendshoring’ dan ‘Decoupling’ Teknologi
“Jadi biasanya, seperti akhir-akhir ini, concern mulai ada pressure apakah negara-negara Asean harus seolah-olah memilih fokus mendekatkan (diri) ke China dan AS,” ujar dia.
Dalam kesempatan yang sama, Lektor Kepala Ekonomi Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Kiki Feriko menyebut konteks friendshoring dalam aturan TKDN sebetulnya bisa diterapkan di negara yang ingin mengembangkan produk teknologi tinggi. Meski demikian, dia menyebut, konsep aturan TKDN itu perlu dibarengi dengan kemampuan pengadaan sumber daya yang bisa mendukung penerapan teknologi tinggi.
“Soal teknologi tinggi, itu soal knowledge base, soal kemampuan inovasi RND sebuah negara. Jadi tidak terkait perjanjian perdagangan, seperti AS dan Malaysia,” kata Kiki.
Kiki mengatakan upaya AS memindahkan ekosistem Integrated Circuit (IC) ke Malaysia misalnya, merupakan bentuk kombinasi dari ketersediaan ekosistem dan SDM. “Kenapa As nggak pindahin ekosistem ke Meksiko? Jadi persoalannya knowledge base, human resource, dan pilihannya Indonesia mau ke sana (SDM) nggak?” ujar dia.

