Lihat, Inilah Inflasi Komponen Inti yang Jadi Perhatian BI
JAKARTA, investortrust.id – Bank Sentral Amerika Serikat memilih Indeks Harga Personal Consumption Expenditures (PCE), di luar makanan dan energi, sebagai salah satu indikator kunci yang diperhitungkan dalam penentuan kebijakan suku bunga acuannya. Untuk Indonesia, Bank Indonesia (BI) mengacu pada indikator inflasi inti.
Indeks Harga PCE yang mengabaikan harga makanan dan energi telah menjadi fokus utama Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam menilai tingkat inflasi. Merujuk keterangan Federal Reserve Bank of St Louis, indeks PCE merupakan salah satu ukuran inflasi yang paling tepat dan luas untuk mengevaluasi perubahan harga di Amerika Serikat.
Baca Juga
The Fed Tahan Bunga, Kurs Rupiah Kompak Menguat Rp 16.199/USD dan Euro 0,7976/USD
Pemilihan itu lantaran, pertama, inflasi PCE memiliki cakupan yang luas, sebagian besar belanja konsumen. Ini mulai dari barang-barang dan jasa, hingga perubahan harga dalam pembiayaan kesehatan dan pendidikan. Hal itu membuat inflasi PCE menjadi indikator yang komprehensif untuk mengukur tekanan inflasi yang mungkin terjadi dalam perekonomian di negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia tersebut.
Kedua, dengan mengecualikan komponen makanan dan energi, inflasi PCE mampu menangkap tren inflasi yang lebih stabil. Hal ini karena harga makanan dan energi cenderung lebih fluktuatif dan terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal, seperti perubahan cuaca atau geopolitik.
Selain itu, The Fed menggunakan inflasi PCE karena dianggap memberikan gambaran yang lebih akurat tentang pengalaman inflasi yang dialami oleh rumah tangga di Negeri Paman Sam itu secara keseluruhan. Hal ini berbeda dengan Consumer Price Index (CPI), yang sering kali lebih dipengaruhi oleh perubahan harga barang konsumsi yang lebih spesifik.
Sementara itu, inflasi inti menjadi salah satu acuan Bank Indonesia dalam menentukan BI Rate. BI mempertimbangkan inflasi inti, yang serupa dengan inflasi PCE di Amerika Serikat, sebagai salah satu acuan utama dalam menetapkan kebijakan moneter.
Inflasi inti ini juga mengabaikan komponen harga yang cenderung volatil seperti makanan dan energi. Dengan demikian, memberikan gambaran yang lebih stabil tentang tekanan inflasi dalam perekonomian Indonesia.
Menurut keterangan BI, inflasi inti digunakan sebagai indikator karena lebih tepat dalam memperkirakan tren inflasi yang mendasar. Dengan demikian, memungkinkan bank sentral untuk mengambil keputusan kebijakan yang lebih efektif dalam menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Inflasi inti ini didefinisikan sebagai komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten (persistent component) dalam pergerakannya, dan dipengaruhi faktor fundamental. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi inti meliputi interaksi permintaan dan penawaran; lingkungan eksternal seperti nilai tukar, harga komoditas internasional, dan perkembangan ekonomi global; serta ekspektasi inflasi di masa depan.
Sedangkan inflasi noninti yaitu komponen inflasi yang cenderung memiliki volatilitas yang tinggi, karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi noninti terdiri atas inflasi komponen bergejolak (volatile food) dan inflasi komponen harga yang diatur oleh pemerintah (administered prices).
Inflasi volatile food adalah inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan, seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun komoditas pangan internasional. Sedangkan inflasi administered prices adalah inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks berupa kebijakan harga pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dan sejenisnya.
Inflasi Komponen Inti April
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, inflasi April 2024 sebesar 0,25% (month to month) didorong oleh komponen inti dan komponen diatur pemerintah. Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,29% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,18%.
Ytd dan Yoy
Secara year to date, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,86% "Sedangkan secara year on year, komponen inti pada April 2024 mengalami inflasi sebesar 1,82%. Hal ini terjadi dengan kenaikan indeks dari 102,05 pada April 2023 menjadi 103,91 pada April 2024," paparnya.
Sementara itu, komponen yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi ytd 0,37%. Komponen ini mengalami inflasi yoy sebesar 1,54%.
Untuk komponen yang harganya bergejolak secara ytd mengalami inflasi sebesar 3,41%. Sedangkan inflasi yoy menembus 9,63%.
Baca Juga
Ia menjelaskan lebih lanjut, komponen inti, komponen yang harganya diatur pemerintah, dan komponen yang harganya bergejolak memberikan andil/sumbangan inflasi yoy masing-masing sebesar 1,17%; 0,30%; dan 1,53%.

