Inflasi Inti April Naik, Inilah Penilaian BI
JAKARTA, investortrust.id – Inflasi inti pada April 2024 tercatat sebesar 0,29% month to month. Iniflasi ini lebih tinggi dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,23% (mtm).
BI mempertimbangkan inflasi inti, yang serupa dengan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) di Amerika Serikat, sebagai salah satu acuan utama dalam menetapkan kebijakan moneter. Inflasi inti ini mengabaikan komponen harga yang cenderung volatil seperti makanan dan energi, sehingga memberikan gambaran yang lebih stabil tentang tekanan inflasi dalam perekonomian Indonesia.
Inflasi inti digunakan sebagai indikator karena lebih tepat dalam memperkirakan tren inflasi yang mendasar. Dengan demikian, memungkinkan BI untuk mengambil keputusan kebijakan yang lebih efektif dalam menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“BI menilai inflasi inti tetap terjaga, meski inflasi inti pada April 2024 sebesar 0,29% mtm lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,23% (mtm). Ini seiring dengan kenaikan permintaan musiman pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, serta didorong oleh peningkatan harga komoditas global, khususnya komoditas emas,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Fadjar Majardi dalam keterangan usai rilis data inflasi Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS), di Jakarta, 2 Mei 2024.
Baca Juga
Realisasi inflasi inti tersebut disumbang terutama oleh inflasi komoditas emas perhiasan, minyak goreng, dan gula pasir. Secara tahunan, inflasi inti April 2024 tercatat sebesar 1,82% (yoy), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,77% (yoy).
Kelompok Volatile Food Deflasi
Sementara itu, kelompok volatile food mencatatkan deflasi. “Kelompok volatile food pada April 2024 mengalami deflasi sebesar 0,31% (mtm). Ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 2,16% (mtm),” ujar Fadjar.
Deflasi kelompok volatile food tersebut disumbang terutama oleh komoditas cabai merah, beras, telur ayam ras, dan cabai rawit. Penurunan harga komoditas pangan terutama dipengaruhi oleh berlangsungnya musim panen, khususnya komoditas aneka cabai dan beras.
“Namun, deflasi lebih lanjut tertahan oleh inflasi komoditas bawang merah, tomat, dan bawang putih. Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 9,63% (yoy), menurun dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 10,33% (yoy),” paparnya.
Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan kembali menurun seiring dengan berlanjutnya musim panen. Selain itu, didukung oleh sinergi pengendalian inflasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah, sehingga mendukung upaya stabilisasi harga pangan.
Inflasi Administered Prices Naik
Sedangkan inflasi kelompok administered prices meningkat. Kelompok administered prices pada April 2024 mengalami inflasi sebesar 0,62% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,08% (mtm). Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh inflasi tarif angkutan udara, angkutan antarkota, dan sigaret kretek mesin (SKM), seiring dengan peningkatan mobilitas saat libur Idulfitri, dan berlanjutnya transmisi kenaikan cukai hasil tembakau.
Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices menjadi sebesar 1,54% (yoy), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,39% (yoy).
Inflasi IHK
Untuk Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2024, BI juga menilai tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi IHK April 2024 tercatat sebesar 0,25% (mtm), sehingga secara tahunan menjadi 3,00% (yoy).
“Inflasi yang terjaga merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah (pusat dan daerah) dalam TPIP dan TPID, melalui penguatan di berbagai daerah. Ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024,” katanya.
Baca Juga

