The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Kamis (2/5/2024) setelah Bank Sentral AS, The Fed, menahan suku bunga acuan (Fed funds rate/FFR) di level 5,25-5,50%.
Rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) menguat 74 poin ke level Rp 16.202 per dolar AS dibanding Rp 16.276 pada Selasa (30/4/2024).
Di pasar spot antarbank Jakarta, nilai tukar rupiah juga menguat terhadap indeks dolar AS. Seperti dilansir Yahoo Finance, mata uang Garuda hingga pukul 15.30 WIB menguat 76 poin ke level Rp 16.180 per dolar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp 16.256.
Baca Juga
Jelang Pertemuan The Fed Berbagai Mata Uang Melemah, Rupiah ke Rp 16.269/USD
Analis forex yang juga Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyoroti keputusan The Fed menahan suku bunga. Hal itu menekan indeks dolar AS dan menstimulasi harga komoditas.
"The Fed masih mengisyaratkan tidak terburu-buru untuk mulai memangkas suku bunga," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis (2/5/2024).
Selain itu, menurut Ibrahim, The Fed turut menawarkan sinyal beragam, di antaranya menunggu data nonfarm payrolls atau data ketenagakerjaan AS selain sektor pertanian, pemerintahan, rumah tangga, dan lembaga-lembaga nonprofit.
Sesuai perkiraan para pelaku pasar, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, Rabu (1/5/2024) waktu setempat.
"Namun Jerome Powell (Gubernur The Fed) dalam pidatonya pascapertemuan memberikan sinyal yang agak beragam mengenai arah kenaikan suku bunga," ungkap Ibrahim dalam analisisnya.
Mengutip pernyataan Powell, Ibrahim Assuaibi mengatakan, terhentinya disinflasi terutama pada inflasi yang bergerak menuju target The Fed sebesar 2% memberikan sedikit kepercayaan untuk mulai memotong suku bunga lebih awal. Namun The Fed tidak berencana menaikkan suku bunga lebih lanjut.
Dalam perdagangan nilai tukar esok (3/5/2024) hari, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup menguat pada rentang Rp 16.140 hingga Rp.16.210 per dolar AS.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) dalam pengumuman hari ini mengungkapkan, inflasi turun dibandingkan bulan sebelumnya. Pada April 2024 terjadi inflasi sebesar 0,25% secara bulanan (mtm), atau lebih rendah dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 0,52% (mtm).
Baca Juga
The Fed Tahan Bunga, Kurs Rupiah Kompak Menguat Rp 16.199/USD dan Euro 0,7976/USD
Adapun secara tahunan (yoy), inflasi April 2024 mencapai 3,00% (yoy), sedangkan inflasi tahun kalender (April 2024 terhadap Desember 2023) mencapai 1,19%% (ytd).
Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar pada April 2024 adalah transportasi dengan inflasi 0,9% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,12%. Penyumbang utama inflasi kelompok transportasi yaitu tarif angkutan udara, tarif angkutan antarkota, serta tarif kereta api masing-masing dengan andil terhadap inflasi 0,06%, 0,03%, dan 0,01%.

