Eskalasi Timur Tengah Meningkat, BKPM Ungkap Dampak bagi Aliran Investasi Asing
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan peningkatan eskalasi di Timur Tengah bisa berdampak negative terhadap aliran investasi asing ke Indonesia.
Sebagaimana diketahui eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah meningkat setelah serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal oleh Iran ke pangkalan militer Israel pada Minggu (14/4/2024) waktu setempat. BKPM menyebut konflik Iran-Israel dapat mengganggu iklim investasi dalam negeri.
Baca Juga
Antisipasi Eskalasi Konflik Iran-Israel, Pemerintah Ambil Sejumlah Langkah Ini
Menurut Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan, meski Indonesia tidak terlibat secara langsung, namun ketegangan di Timur Tengah bisa mengganggu iklim investasi dalam negeri. Ia menyebut pemerintah dalam hal ini BKPM tengah menunggu reaksi Israel atas serangan tersebut.
"Terkait imbas dan implikasinya teerantung kemana arah respons Israel usai serangan tersebut, kalau tereskalasi dan memperparah situasi hingga melibatkan masing-masing aliansi ini yang kita tidak tahu," kata Nurul kepada Investortrust.id, Senin (15/4/2024).
Dijelaskan Nurul, BKPM mengkhawatirkan serangan Iran kepada Israel menimbulkan eskalasi yang lebih luas, sehingga bukan tidak mungkin berimplikasi serius terhadap realisasi investasi dalam negeri.
"Kalau eskalasinya meluas, jelas akan mengganggu supply chain dan distribusi logistik," sebut Nurul.
Ia menuturkan, apabila eskalasi ketegangan meluas dikhawatirkan dapat mengurungkan rencana investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Hal tersebut didorong sentimen meluasnya ketidakstabilan global hingga inflasi bahan pokok, energi dan biaya distribusi.
Baca Juga
Begini Dampaknya bagi Indonesia jika Ketegangan Iran dan Israel Makin Meluas
"Tentu kita berharap eskalasi tidak meluas dan masing-masing pihak dapat menahan diri," tandasnya.
Dilansir dari berbagai sumber, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, dalam pernyataan di TV menegaskan Teheran telah menyelesaikan serangan balasannya terhadap Israel. Namun, Bagheri memperingatkan Israel untuk tidak melancarkan serangan balik jika tidak ingin mendapat reaksi yang lebih keras.
Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC/Islamic Revolutionary Guard Corps) melancarkan rentetan serangan drone dan rudal secara ekstensif terhadap wilayah Israel, dalam operasi yang disebutnya "Operation True Promise" atau "Operasi Janji Sejati" untuk membalas serangan Tel Aviv terhadap gedung konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April lalu.
IRGC mengklaim serangan drone dan rudal ke Israel berlangsung sukses sesuai sasaran. IRGC mengungkapkan berhasil menghancurkan fasilitas vital militer Israel yang digunakan menyerang aset Iran di Damaskus.
Serangan militer Israel di Damaskus menewaskan belasan orang, termasuk tujuh personel Garda Revolusi Iran yang ditugaskan di Suriah. Terdapat dua jenderal Iran di antara korban tewas dalam serangan Israel, yakni komandan Pasukan Quds Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi dan wakilnya, Jenderal Mohammad Hadi Haji Rahimi.
Berbeda dengan klaim IRGC, militer Israel menyatakan serangan Iran tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan karena hampir 99% dari serangan drone dan rudal Iran bisa dicegat. Juru bicara militer Israel mengakui keberhasilan itu juga berkat bantuan dari AS Bersama negara sekutu Inggris dan Perancis.

