Meski Eskalasi Timur Tengah Meningkat, Pemerintah Belum Berniat Naikkan Harga BBM
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah tidak berniat menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM), meskipun terjadi kenaikan harga minyak dunia setelah eskalasi Timur Tengah meningkat.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji menyebutkan, hingga kini, pemerintah belum bisa membuat prediksi terlalu jauh. Semua pihak, termasuk negara-negara lain, masih menunggu kelanjutan dari konflik Iran-Israel ini.
Baca Juga
IHSG Sesi I Anjlok 1,95% Ikut Bursa Global, Tapi Saham Lima Saham Ini Berjaya
Kendati demikian, Tutuka meyakini, konflik Iran-Israel ini tidak akan berkepanjangan. Pasalnya, Amerika Serikat (AS) sudah meminta Israel untuk tidak membalas serangan Iran.
“Hal ini mengindikasikan bahwa konflik Timur Tengah cenderung turun. Jadi membuat tidak berkelanjutan lama, kecuali ada sesuatu yang accident atau apa. Untuk itu kami melihat ini jangka pendek, jadi tidak ada kebijakan berubah. Tapi kita siap-siap, perlu berencana,” kata Tutuka di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (16/4/2024).
Tutuka menyebutkan, konflik Iran-Israel ini sebenarnya berpotensi membuat harga minyak dunia naik sekitar US$ 5-10 per barel. Jika harga minyak dunia saat ini berada di kisaran US$ 90 per barel, maka perang bisa membuat harga minyak mendekati angka US$ 100 per barel.
Baca Juga
Iran Serang Israel, Inilah Prediksi Rupiah hingga Harga Minyak Selasa
Maka dari itu Tutuka mengatakan, dengan kenaikan harga minya tersebut bisa berdampak terhadap kenaikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Namun, dia menyebutkan kalau kenaikan anggaran subsidi akan lebih besar.
“Sebetulnya kalau demikian, PNBP-nya memang naik, tetapi subsidinya lebih besar dari pada itu. Subsidi LPG itu besar, kemudian solar. Jadi lebih besar kenaikan untuk nambah subsidi daripada penerimaan PNBP yang harus diperhitungkan,” ujar Tutuka.

