Meski Eskalasi Timur Tengah Belum Mereda, Harga Minyak Dunia justru Turun
JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak, Rabu (17/4) pagi ini, terpantau bergerak tertekan dipicu oleh proyeksi perlambatan ekonomi global serta kenaikan stok minyak Amerika Serikat (AS). Namun terbukanya sanksi tambahan dari AS terhadap ekspor minyak Iran dan ketidakpastian eskalasi Timur Tengah akan membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Secara teknikal, riset ICDX menyebutkan bahwa harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 87 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 82 per barel.
Perekonomian global diperkirakan kembali mengalami pertumbuhan yang lambat namun stabil selama satu tahun lagi, kata Pierre-Olivier Gourinchas, kepala ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) pada hari Selasa (16/4).
Baca Juga
Diperkirakan perekonomian dunia akan terus tumbuh sebesar 3,2% pada tahun 2024 dan 2025, sama dengan level kecepatan pertumbuhan pada tahun 2023.
Di sisi pasokan, persediaan minyak mentah AS dilaporkan naik sebesar 4,09 juta bph dalam sepekan, ungkap laporan yang dirilis oleh grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 12 April.
Untuk stok bensin dilaporkan turun sebesar 609 ribu bph. Laporan API tersebut mengindikasikan melemahnya permintaan di pasar energi AS. Namun, pasar masih menantikan laporan resmi versi pemerintah yang akan dirilis oleh badan statistik Energy Information Administration (EIA) pada Rabu malam ini.
Sementara Menteri Keuangan AS Janet Yellen pada hari Selasa memperingatkan bahwa AS akan menjatuhkan sanksi baru kepada Iran dalam beberapa hari mendatang sehubungan dengan serangan Iran pada akhir pekan lalu terhadap Israel.
Baca Juga
Pengamat Sebut Ketegangan Iran–Israel Tidak Berpengaruh Signifikan pada Harga Minyak Mentah
Potensi sanksi tambahan AS yang nampaknya masih akan menargetkan sektor perminyakan Iran menjadi katalis positif bagi harga minyak. Sebab Iran merupakan produsen OPEC terbesar ketiga setelah Arab Saudi dan UEA.
"Fokus pasar juga tertuju pada keputusan yang akan diambil oleh Israel sehubungan dengan ditundanya pertemuan ketiga kabinet perang Israel yang dijadwalkan pada hari Selasa menjadi hari Rabu tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut," tulis Riset ICDX.
Sebelumnya Panglima militer Israel, Jenderal Herzi Halevi, menegaskan Israel akan merespon serangan drone dan rudal yang dilakukan oleh Iran pada pekan lalu, yang juga memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi konflik di Timur Tengah. (Lona Olavia)

