Rupiah Melemah 12 Poin, Simak Prediksi Pekan Depan
JAKARTA, Investortrust.id – Dalam penutupan pasar akhir pekan, mata uang Rupiah ditutup melemah 12 poin menjadi Rp 15.565 pada Jumat (24/11/2023), dari Rp 15.553 hari sebelumnya. Sedangkan nilai tukar Rupiah untuk perdagangan Senin (27/11/2023) diprediksi bergerak fluktuatif namun ditutup melemah dalam rentang Rp 15.540 - Rp15.620 per dolar AS.
Hal itu dilatarbelakangi sejumlah sentimen dari eksternal maupun internal, seperti penetapan suku bunga The Fed maupun pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari eksternal, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaib menyebut, pelaku pasar tengah menunggu data purchasing managers index (PMI) Amerika Serikat (AS), Sabtu (25/11/2023) dini hari.
PMI AS diperkirakan akan menunjukkan pelemahan berkelanjutan dalam aktivitas bisnis. Sebab, perekonomian terbesar di dunia ini melemah akibat tingginya suku bunga dan inflasi yang tinggi.
Baca Juga
BI Genjot Strategi Pro Market Demi Perkuat Nilai Tukar Rupiah
“Tanda-tanda pelemahan apa pun dalam perekonomian AS memberikan ruang terbatas bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi, dan juga meningkatkan peluang penurunan suku bunga lebih awal,” ujar Ibrahim, dikutip pada Minggu (26/11/2023).
Risalah pertemuan bank sentral pada akhir Oktober menunjukkan, sebagian besar pembuat kebijakan mendukung prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, mengingat ketahanan perekonomian AS saat ini.
Adanya kekhawatiran atas pernyataan Gubernur Bank of England mengenai suku bunga tinggi yang berkelanjutan, menunjukkan adanya tekanan resesi. Selain itu, data PMI yang lemah di zona euro dan Jepang juga menunjukkan melemahnya tren ekonomi di seluruh dunia, yang pada gilirannya dapat mendukung permintaan safe haven terhadap dolar AS.
Dari internal atau domestik, pelaku pasar terus memantau beberapa hal yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Konsensus memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi tidak sesuai dengan ekspektasi pemerintah maupun Bank indonesia.
“Hal tersebut akan berpengaruh terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2023 di bawah 5%,” ujar Ibrahim,
Baca Juga
Pertama, ada kondisi perekonomian global yang pasti memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Kedua, tensi geopolitik di mana konflik yang terjadi seperti Israel dengan Hamas, serta Rusia dengan Ukraina juga dipercaya berpengaruh. Hal tersebut akan berdampak pada inflasi dan nilai tukar Rupiah.
“Namun, tantangan itu dapat diatasi dengan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang memiliki peran sebagai instrumen yang menjaga stabilitas ekonomi,” sambung Ibrahim.
Selain itu, APBN juga memiliki tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, pengelolaan APBN akan tetap memperhatikan dinamika perekonomian, yang berdampak terhadap domestik.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2023 sebesar 4,94% secara year on year (yoy) dan tumbuh 1,6% secara quartal to quartal (QtQ). Sehingga, secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,05%. Adapun pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2022 mencapai 5,73%. (CR-10)
