Ekonomi Global Masih Diselimuti Ketidakpastian, Sri Mulyani Ingatkan Ini...
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengingatkan, ketidakpastian ekonomi global bisa menimbulkan dampak rembesan (spill over) ke dalam negeri berupa depresiasi rupiah, lonjakan inflasi, dan perlambatan ekonomi.
“Risiko dan ketidakpastian dari global bisa memberikan dampak spill over ke dalam negeri, terutama akibat volatilitas di pasar keuangan. Itu juga dapat menekan sektor riil. Kondisi global yang serba tak pasti berpotensi memengaruhi nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi kita," kata Sri Mulyani, dalam konferensı pers APBN KiTa, Rabu (25/10/2023).
Sri Mulyani menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global berasal dari krisis ekonomi di Amerika Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan Uni Eropa. “Dalam beberapa terakhir, perekonomian di tiga negara terbesar, yaitu AS, RRT, dan Uni Eropa mengalami suasana yang tidak mudah dalam dinamika dan tekanan yang tinggi,” ujar dia.
Baca Juga
Keseimbangan Primer Catatkan Surplus, Menkeu: APBN Masih Solid dan Manageable
Menkeu mencontohkan, kondisi ekonomi AS masih menghadapi tekanan berat. Ketidakpastian ekonomi Negeri Paman Sam tercermin pada imbal hasil (yield) US Treasury Bond tenor 10 tahun yang pada September-Oktober 2023 terus menunjukkan kecenderungan naik, bahkan sempat mendekati level 5%, persisnya 4,988%, meski hari ini turun ke level 4,863%.
“Saya menyampaikan ini dalam konteks biasanya Amerika itu yield-nya rendah sejak global financial crisis,” tutur dia.
Picu Modal Keluar
Menurut Sri Mulyani, tidak hanya tinggi, pergerakan yield US Treasury Bond sangat sulit ditebak. Dengan yield tinggi, obligasi pemerintah AS dianggap lebih menarik bagi para investor.
Kondisi itu, kata dia, telah memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia, sehingga mata uangnya melemah.
“Inilah yang kami sampaikan tantangan bergeser, sekarang muncul dalam tantangan yang makin tidak predictable. Belum terpilihnya pimpinan kongres juga berdampak terhadap ekonomi domestik AS," ujar dia.
Baca Juga
Sri Mulyani mengakui, perlambatan ekonomi China juga patut diwaspadai. Masalah serius perekonomian Negeri Tirai Bambu terutama bersumber dari sektor properti. Mengutip Time, Sri Mulyani menyebut 50% perusahaan properti di China mengalami kesulitan keuangan.
“Nah, ini akan memengaruhi kita juga. Sebagai perekonomian terbesar kedua terbesar di dunia, Tiongkok menjadi motor pertumbuhan ekspor di dunia, termasuk Indonesia,” tandas dia.
Masuk Jurang Resesi
Sri Mulyani mengatakan, Uni Eropa (UE) pun masih menghadapi perekonomian yang rumit. Selain dibekap inflasi yang tinggi, perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina turut memperparah kondisi ekonomi kawasan tersebut.
Baca Juga
“Sekarang muncul pula geopolitik perang Palestina-Israel. Itu bisa memicu kenaikan harga sumber energi, khususnya minyak, sehingga inflasi akan tinggi. Itu sebabnya, Bank Sentral Uni Eropa (ECB) akan cenderung hawkish atau keras dalam menentukan policy rate mereka,” papar dia.
Sri Mulyani mengemukakan, suku bunga yang akan dinaikkan dalam cukup lama di UE akan mengancam perekonomian negara-negara di kawasan tersebut, bahkan mereka berpotensi masuk jurang resesi. “Kita semua tahu ekonomi terbesar di Eropa sudah masuk ke zona kontraksi, sehingga by definition masuk ke dalam resesi,” kata dia. (CR-7)

