Perlambatan Ekonomi Berlanjut, Indef Anjurkan Tiga Hal Ini
JAKARTA, investortrust.id – Institute for Development of Economics and Finance (Indef)mengingatkan, laju pertumbuhan ekonomi kuartal III-2023 yang hanya mencapai 4,94% (yoy) adalah alarm yang harus diwaspadai. Untuk mencegah perlambatan ekonomi nasional lebih lanjut, Indef menganjurkan pemerintah menempuh tiga hal ini.
Menurut ekonom Indef, Eko listiyanto, laju pertumbuhan ekonomi kuartal III-2023 sebesar 4,94% jauh lebih rendah dibandingkan kuartal III-2022 (yoy) yang mencapai 5,73% (yoy). Bahkan lebih rendah dari kinerja sebelum pandemi pada kuartal III-2019 sebesar 5,01% (yoy). Juga merupakan yang terendah sejak akhir 2021.
“Ini merupakan alarm perlambatan ekonomi yang tidak boleh diabaikan,” ujar Eko listiyanto dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Selasa (07/11/2023).
Untuk mencegah perlambatan ekonomi lebih lanjut, kata Eko, pemerintah bisa menempuh tiga hal. “Pertama, pertahankan daya beli masyarakat dengan memanfaatkan momentum Natal dan Tahun Baru, serta tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi,” tegas dia.
Eko menjelaskan, bantuan sosial (bansos) perlu direformasi total. Jumlah penerima harus dipangkas berdasarkan data terbaru. Selain itu, bansos harus disalurkan kepada 10% masyarakat terbawah.
Eko menambahkan, belanja pemilu juga perlu dioptimalkan untuk mendorong konsumsi masyarakat dan sektor-sektor terkait, seperti industri makanan dan minuman, serta industri kertas dan barang dari kertas. Sektor lainnya yaitu percetakan dan reproduksi media rekaman, sektor transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta informasi dan komunikasi.
Kedua, menurut Eko listiyanto, belanja pemerintah harus dioptimalkan pada bulan-bulan terakhir 2023 dengan mempercepat belanja modal. “Bahkan jika perlu realisasinya di atas 100%. Sebab, anggaran masih sangat memadai. Selesaikan prioritas-prioritas infrastruktur nasional yang masih tertunda,” tandas dia.
Ketiga, kata Eko, pemerintah harus berupaya menggenjot ekspor ke pasar tradisional atau ke mitra dagang utama. Di sisi lain, penurunan pasar China, Jepang, dan AS perlu diikuti upaya peningkatan ekspor ke India, Malaysia, Filpina, Singapura, Vietnam, Taiwan, dan Thailand.
“Untuk itu, diperlukan insentif dan pencegahan PHK industri yang terpengaruh oleh pelemahan ekspor, yakni industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri karet, barang dari karet dan plastik dan industri furniture,” papar dia.

