Menkeu: Pengentasan Kemiskinan dan Upaya Menjaga Bumi Bisa Beriringan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani menyebut upaya pengentasan kemiskinan melalui pembangunan dan menjaga kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
“Tidak menjadi kontestasi antara pengurangan kemiskinan dan bagaimana menjaga planet, sehingga kita bisa hidup berdampingan,” kata Sri Mulyani dalam Climate Change and Indonesia’s Future: An Intergenerational Dialogue, di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Senin (27/11/2023).
Sri Mulyani mengatakan Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di dunia dapat mengembangkan pertumbuhan ekonomi dan tetap bisa membangun perekonomian tanpa mengorbankan isu global yaitu perubahan iklim. Dia menyebut saat ini emisi per kapita mengalami kenaikan seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita.
“World Bank menunjukkan bahwa Indonesia dalam peningkatan income per capita juga menimbulkan emission per capita yang meningkat. Emission per kapita naik dua kali lipat, sementara income per capita naik hampir empat kali lipat,” ujar dia.
Baca Juga
BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Global 2024 Melambat Jadi 2,8%
Meski demikian, kata Sri Mulyani, buruknya emisi per kapita Indonesia tergolong rendah, jika dibandingkan di antara negara-negara G20 lain.
Indonesia, kata dia, berada di kedua terbawah di atas Brazil dan India. Dari paparannya, emisi per kapita Indonesia tercatat sebesar 2,8 ton CO2e pada 2022. Sementara itu Brazil dan India, masing-masing membukukan 2,2 ton CO2 dan 2 ton CO2e.
Sri Mulyani mengatakan saat Indonesia kini sedang terus berjuang untuk menurunkan emisi karbon. Dia menyebut tantangan nyatanya yaitu bagaimana kesejahteraan masyarakat meningkat tanpa membuat merusak planet yang ditinggali.
“Climate change bukan satu-satunya tantangan. Indonesia harus menghadapi tingginya suku bunga karena higher for longer, geopolitic tension, dan digitalization,” ucap dia.
Baca Juga
Menurut World Economic Forum, tantangan dalam 10-20 tahun terjadi pergeseran. Sri Mulyani mengungkapkan, dalam dua tahun terakhir isu mengenai inflasi membuat tensi sosial masih menjadi perhatian. Tapi, dalam 10 tahun mendatang isu mengenai perubahan iklim akan menjadi semakin nyata.
“Jadi banyak yang menyadari dalam 10 tahun mendatang terjadi perubahan masalah yang terhubung dengan perubahan iklim yang dirasakan seluruh negara dan orang di dunia, tanpa terkecuali,” ucap dia. (CR-7)

