Indeks Dolar Menguat, Kurs Rupiah Bertahan Rp 15.909/USD
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah masih bertahan pada posisi Rp 15.909 per USD pada penutupan transaksi antarbank di pasar valuta asing Indonesia, Selasa (2/4/2024) sore. Berdasarkan data Jisdor yang dirilis Bank Indonesia, posisi ini sama seperti penutupan hari sebelumnya.
Sementara merujuk data Yahoo Finance, mata uang Garuda melemah 12 poin ke level Rp 15.895 per USD dalam penutupan perdagangan di pasar spot, Selasa (2/4/2024). Rupiah pada hari sebelumnya berada di Rp 15.883 per USD.
Menurut Reny, ketidakpastian perekonomian global mendorong aliran dana ke aset-aset safe haven. Melemahnya perekonomian global dan meningkatnya ketegangan geopolitik memaksa pelaku pasar untuk menempatkan dananya pada instrumen yang dianggap aman atau safe haven, seperti dolar AS dan emas.
"DXY masih meningkat ke 105 - 106 (dari akhir tahun 2023 di level 101). Kenaikan indeks dolar (DXY) menunjukkan berlanjutnya penguatan dolar AS terhadap mata uang utama," kata Reny dalam keterangan tertulis kepada Investortrust.id, Selasa (2/4/2024).
PDB AS Kuartal IV 3,4%
Reny menjelaskan, meningkatnya permintaan USD juga didorong oleh berbagai data perekonomian AS yang menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal IV-2023 direvisi naik menjadi 3,4% (quarter on quarter), dari sebelumnya diperkirakan 3,2% (qoq). Di tengah suku bunga masih tinggi, kondisi ini menunjukkan belanja konsumen yang kuat dan perekonomian AS tangguh.
"Demikian pula dalam hal perkembangan harga. Tingkat inflasi PCE (personal consumption expenditures) tahunan AS naik tipis menjadi 2,5% pada Februari 2024, dari 2,4% pada Januari 2024," paparnya.
Sementara itu, The Fed masih mengindikasikan era rezim suku bunga tinggi akan dipertahankan untuk beberapa waktu. Ketua Dewan Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan, bank sentral AS tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga acuan Fed Funds Rate, karena perekonomian AS masih cukup resilien dan inflasi CPI AS masih sebesar 3,2% pada Februari 2024.
"Dengan perkembangan tersebut, diperkirakan waktu penurunan suku bunga The Fed akan diundur," sebut Reny.
Kemudian, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi 5,50% selama 1-3 bulan ke depan. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun melalui CME Group per 1 April 2024, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 5,25% - 5,50% dengan peluang 96,1%, pada pertemuan FOMC 1 Mei 2024. The Fed baru akan mulai menurunkan suku bunganya ke level 5,00% - 5,25% pada pertemuan FOMC Juni nanti, dengan probabilitas 65,9%.
Namun, ekonom Bank Mandiri tersebut optimistis rupiah masih akan bertahan dan tidak anjlok hingga Rp 16.000 per USD dalam beberapa waktu ke depan.
