Indeks Dolar Menguat, Kurs Rupiah di level Rp 16.160/USD Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah tekanan indeks dolar Amerika Serikat yang menguat, nilai tukar rupiah ditutup relatif stabil. Kurs rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (18/7/2024) sore berada di level Rp 16.160/USD, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).
Pada perdagangan spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah berada di level Rp 16.153/USD hingga pukul 16.00 WIB. Sebelumnya, mata uang Garuda bertengger di posisi Rp 16.094/USD pada penutupan perdagangan kemarin. Masih berdasarkan data Yahoo Finance, indeks dolar AS tercatat bergerak menguat 0,04 poin atau 0,04% ke posisi 103,79 Kamis siang, seiring menguatnya data produksi manufaktur di AS.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, sorotan pelaku pasar kini juga tertuju pada rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan pemilihan umum (pemilu) presiden Amerika Serikat. "Kandidat Presiden AS berikutnya, Donald Trump, kini difavoritkan untuk memenangkan pemilu bulan November. Ia menyatakan Taiwan harus membayar AS untuk perlindungan dan menuduh Taiwan mencuri bisnis semikonduktor Amerika," kata Andry dalam analisisnya, Jakarta, Kamis (18/7/2024).
Sementara itu, data produksi manufaktur di AS menunjukkan kenaikan 0,4% (month on month) di Juni 2024. Ini mengalahkan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,2%.
"Indeks manufaktur tahan lama AS tidak berubah. Indeks manufaktur tidak tahan lama meningkat 0,8%, dan indeks penerbitan dan penerbangan meningkat 0,9%," papar Andry.
Produksi industri di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu tercatat naik 0,6% (mom) di Juni 2024. Output manufaktur, yang mencakup 78% dari total produksi, naik 0,4%.
Kekhawatiran Perang Dagang
Analis PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyoroti kembali menguatnya indeks dolar AS didorong oleh sentimen yang datang dari negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. "Ancaman pembatasan AS terhadap Cina juga meningkatkan kekhawatiran atas perang dagang baru antarnegara," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (18/7/2024).
Baca Juga
Harga Emas Antam Cetak Rekor Baru, Tembus Rp 1.427.000 per Gram Kamis Pagi
Sementara itu, komentar baru-baru ini oleh calon presiden dari Partai Republik Donald Trump mengenai belanja pertahanan AS di Taiwan juga memicu sentimen yang menggelisahkan pasar regional. Hal tersebut dapat mewakili upaya berkelanjutan pemerintahan Presiden AS Joe Biden untuk memutus akses Cina terhadap kemajuan dalam kecerdasan buatan serta terhadap teknologi dan industri pembuatan chip.
"Hal ini juga dapat memicu tindakan pembalasan yang keras dari Beijing. Sehingga, ini akan memicu perang dagang baru antara negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia," sambungnya.
Baca Juga
Sementara, Tiongkok juga menghadapi kekhawatiran atas melambatnya pemulihan ekonomi Cina. Ini terutama setelah data produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia itu.

