Indeks Dolar Melemah, Kurs Rupiah Terus Menguat ke Rp 16.162/USD Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah lanjut bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (11/7/2024) pagi. Mata uang Garuda tercatat terapresiasi 73 poin atau 0,45% ke Rp 16.162/USD berdasarkan data RTI pukul 09.43 WIB.
Penguatan rupiah terhadap greenback itu seiring dengan pelemahan indeks dolar AS. DXY tercatat melemah 0,13 poin atau 0,12% pada pukul WIB, merujuk data Yahoo Finance.
“Sentimen positif berasal dari komentar dovish Ketua The Fed Jerome Powell. Pada pertemuan Komite Jasa Keuangan DPR Amerika Serikat, Powell menyampaikan keyakinannya dalam memerangi inflasi. Bahkan dengan data-data terkini, ia melihat ekonomi AS semakin dekat dengan kondisi soft landing, di mana hal itu terlihat mustahil pada 2022 saat inflasi AS mencetak rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir,” kata analis Cheril Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Baca Juga
Asing Net Sell Saham Rp 0,17 Triliun Rabu, Capital Inflow Pasar Keuangan Rp 98 Triliun Ytd
FFR Peluang Dipangkas Minimal 2 Kali
Dengan komentar tengah tahun The Fed, pelaku pasar semakin optimis suku bunga akan dipangkas setidaknya 2 kali di tahun 2024. Bursa saham AS pun merespons positif dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq yang kembali mencetak rekor tertinggi kemarin waktu setempat atau selama 5 hari berturut-turut.
Bursa saham Eropa rebound setelah komentar dari Kepala Ekonom Bank of England (BoE) Huw Pill yang menegaskan peluang pemangkasan suku bunga di masa depan, namun saat ini inflasi dan pasar tenaga kerja masih terlalu kuat. Selain
itu, saham produsen otomotif Eropa kompak rebound seiring penerapan kenaikan tarif kendaraan asal Tiongkok.
Baca Juga
PLN Didorong Selesaikan Interkoneksi Mahakam, Demi Setop Impor Listrik
Sementara di Asia, rilis data inflasi Tiongkok periode Juni naik tipis 0,2% year on year (yoy). Ini lebih rendah dari estimasi pasar dan data bulan lalu.
"Secara bulanan, inflasi Tiongkok bahkan melemah 0,2%, pelemahan yang lebih dalam dari bulan Mei. Penyebabnya adalah promosi besar-besaran pada festival '618' telah menekan harga barang hiburan, peralatan rumah tangga, dan mobil. Data inflasi Tiongkok yang lemah membuat pelaku pasar kembali khawatir akan deflasi dan pemulihan ekonomi yang tidak merata, akibat konsumsi yang lemah dan krisis sektor properti," ujar Head of Research Mega Capital Sekuritas ini.
Hari ini, lanjut dia, fokus pasar akan tertuju pada rilis inflasi konsumen AS periode Juni 2024, yang diperkirakan kembali melanjutkan tren penurunan. Selain itu, akan ada rilis klaim pengangguran mingguan di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu dan komentar anggota FOMC Bostic.

