Akui Visi Indonesia Emas Tak Mudah, Wamenkeu Sebut Indonesia Butuh 3 Sumber Penyokong Ini
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengakui proyeksi untuk menuju Visi Indonesia Maju 2024 tidak mudah. Ini karena Indonesia butuh pertumbuhan ekonomi tinggi dan stabilitas ekonomi yang terus mapan.
“Dalam konteks pertumbuhan ekonomi tinggi ini kami ingin membagi sumber pertumbuhan ekonomi yang tinggi, itu bisa kita turunkan menjadi tiga sumber,” kata Suahasil, saat Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat RKP 2025, yang digelar daring, Kamis (18/4/2024).
Suahasil mengatakan sumber pertama yang diperlukan yaitu modal. Kedua, kata dia, yaitu tenaga kerja yang berkualitas, dan ketiga, perlu adanya produktivitas yang tinggi.
Sumber modal terdiri atas investasi, foreign direct investment (FDI), dan ease of doing business yang kurang kompetitif. Adapun tenaga kerja terdiri atas ketersediaan tenaga kerja yang masih memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, bonus demografi akan terus menurun, perbaikan kualitas SDM. Sementara itu, produktivitas terdiri dari perbaikan regulasi dan efisiensi birokrasi, perbaikan infrastruktur, hilirisasi dan transformasi hijau.
Baca Juga
Moeldoko Sebut Pemerintah Perlu Hati-hati Hadapi Visi Indonesia Emas 2045
“Kita perlu pertumbuhan sedikitnya 6% dan kalau kita menuju arah 6%, produktivitas dan modal harus meningkat,” ujar dia.
Dalam paparannya, Suahasil menyampaikan, saat ini porsi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% dihasilkan dari modal sebesar 2,5%, tenaga kerja 1%, dan produktivitas 1%. Sementara itu, untuk menggapai pertumbuhan 6% diperlukan pengaruh modal sebesar 3%, tenaga kerja 1,6%, serta produktivitas 1,4%.
Suahasil mengatakan pemerintah memproyeksikan target PDB 2025 berada di kisaran Rp 24.316 triliun sampai Rp 24.479 triliun. Untuk mencapainya, ada beberapa investasi yang perlu dicapai.
Investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 2025 ditargetkan mencapai Rp 7.092 triliun hingga Rp 7.130 triliun. Sementara itu, capital expenditure (capex) atau modal dari APBN atau APBD ditargetkan mencapai Rp 420 triliun - Rp 462 triliun. Pemerintah menargetkan capex swasta mencapai Rp 6.096 triliun hingga Rp 6.140 triliun. Sementara itu, capex dari BUMN mencapai Rp 532 triliun - Rp 572 triliun.
“Ini harus kita orkestrasi sehingga mendapatkan nilai investasi yang diperlukan perekonomian kita 2045,” kata dia.
Baca Juga
Stabilitas Ekonomi Tak Cukup bagi Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045
Merespons kondisi tersebut, Suahasil meminta pemda untuk mengelola pembangunan ke depan terus memikirkan bagaimana meningkatkan infrastruktur agar ada efisiensi biaya logistik. Dia juga menyebut, Kemenkeu terus mempersiapkan berbagai fasilitas pengurangan pajak dan mendorong investasi untuk pengurangan pajak penghasilan riset dan vokasi.
“Ini agar bisa meningkatkan FDI berbasis hilirisasi, berbagai industri kendaraan listrik renewable energy dan berbagai macam sektor lain,” ujar dia.

