Sanksi Rusia Ditambah, Harga Logam dan Energi Kompak Naik
Oleh Cheril Tanuwijaya,
Rifdah Fatin Hasanah,
Lia Andani, dan Yesaya Christofer*
INVESTORTRUST.ID – Amerika Serikat dan sekutunya Inggris sepakat melarang impor aluminium, tembaga, dan nikel dari Rusia yang diumumkan pada Jumat, 12 April 2024. Ini merupakan sanksi yang untuk kesekian kalinya ditambah atas Rusia, menyusul pecah perangnya dengan Ukraina di Eropa.
Bahkan, Departemen Keuangan AS mengumumkan larangan kepada London Metal Exchange (LME) dan Chicago Mercantile Exchange (CME) untuk tidak memperdagangkan komoditas penting tersebut. Sementara itu, selama ini, Rusia adalah salah satu produsen utama komoditas logam tersebut.
Rusia tercatat menyuplai kebutuhan nikel, aluminium, dan tembaga global, masing-masing mencapai sebesar 6%, 5%, dan 4%. Besarnya kontribusi Rusia itu diperkirakan mengganggu supply komoditas logam global akibat sanksi sekutu. Alhasil, merespons kebijakan tersebut, harga aluminium dan nikel kompak menguat 9,4% dan 8,8% dalam sehari lalu.
Baca Juga
Analis: Ketegangan Geopolitik Buat Investor Alihkan Aset dari Saham ke Emas
Penguatan Harga Energi
Penguatan harga logam dasar ini tidak sendirian di tengah panasnya konflik Rusia-Ukraina maupun eskalasi ketegangan geopolitik Timur Tengah. Harga energi pun tersambar naik.
Hal ini tentu menarik di Bursa Efek Indonesia. Pasalnya, sejumlah emiten bahan baku yang terkait logam dasar dan energi berprospek menggelembungkan pundi-pundi dolar lantaran ekspor positif.
Pelaku pasar domestik pun akan mencermati sejauh mana pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD. Sementara itu, dari bursa saham global cenderung konsolidasi, menanti komentar anggota Dewan Gubernur The Fed.
Pascaserangan Iran terhadap Israel pada 13 April lalu yang menyebabkan aksi jual di bursa saham global, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Pasar memperkirakan serangan balasan tidak akan terjadi dalam waktu singkat dari Israel. Selain itu, pernyataan menteri luar negeri Iran yang tidak memiliki rencana serangan lanjutan juga cukup menenangkan pasar untuk sementara.
Namun, komentar dari Gubernur The Fed bagian New York John Williams kembali membuat pelaku pasar ragu bahwa suku bunga akan diturunkan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Juni mendatang. Pasalnya, beliau mengatakan suku bunga akan dipangkas jika inflasi turun secara bertahap, namun ia juga menekankan betapa kuatnya konsumsi di negara adidaya itu plus mencermati perkembangan perang di Timur Tengah.
Komentar Williams didukung dengan rilis data penjualan retail Amerika Serikat periode Maret naik 0,7% year on year (expectation 0,4%, previous 0,9%). Berdasarkan survei CME, probabilitas Bank Sentral AS memangkas suku bunga sebesar 25 bps di Juni 2024 tinggal tersisa 19%, turun signifikan dari 51% pada pekan lalu per 8 April 2024.
Pelaku pasar juga mencermati kinerja produk domestik bruto (PDB) Tiongkok kuartal I-2024 yang kembali ekspansif, selain rilis kinerja emiten perbankan AS (Morgan Stanley & Bank of America), proyeksi ekonomi International Monetary Fund (IMF), dan komentar dari para pejabat The Fed.
Pilih-Pilih Saham
Dengan sentimen yang ada sekarang, pelaku pasar mencermati emiten bahan baku yang terkait logam dasar dan emiten dengan pendapatan USD. Di sisi lain, cenderung menghindari emiten-emiten yang sensitif suku bunga dan pelemahan rupiah. Ini seperti emiten teknologi, properti, dan konstruksi.
Dari dalam negeri, Asian Development Bank (ADB) membobot positif pemilu 2024. ADB menilai pemilu berjalan dengan lancar pada Februari lalu, yang mungkin akan membuat kepercayaan bisnis membaik dan lebih cepat untuk menarik investasi ke Indonesia.
ADB juga memprediksi tingkat inflasi Indonesia berpotensi turun menjadi 2,8% pada tahun 2024 dan 2025. Dalam laporan terbarunya berjudul Asian Development Outlook, ADB menilai, Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIPD) akan terus berperan penting dalam mengelola inflasi domestik, dengan adanya dukungan perbaikan dari sisi manajemen pasokan.
Kinerja Emiten Tambang
Kami melihat, para pelaku pasar bisa mencermati saham emiten bahan baku yang terkait logam dasar dan emiten dengan pendapatan USD. Ini seperti PT Merdeka Copper Gold (MDKA) dan perusahaan pelat merah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Selain itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), yang merupakan perusahaan di sektor sumber daya alam yang terdiversifikasi dan terintegrasi. Perusahaan publik di sektor petrokimia dan energi ini dikendalikan konglomerat Prajogo Pangestu.
Selain itu, sejumlah emiten pertambangan dan energi juga menarik untuk dicermati aksi korporasi dan kinerjanya. Misalnya PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) di sektor migas, yang tercatat meraih dana jumbo dari Shell International. Nilainya mencapai US$ 200 juta (setara Rp 3,1 triliun), atas uang muka transaksi jual beli minyak mentah dari Shell International Eastern Trading Company Pte Ltd (SIETCO). Sementara itu, manajemen mengatakan bahwa transaksi ini tidak tidak memiliki dampak terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha perseroan.
Baca Juga
Rupiah Longsor Hampir Rp 16.200/USD, Presiden Mendadak 'Panggil' Gubernur BI Ratas
Sementara itu, PT Harum Energy Tbk (HRUM), yang merupakan perusahaan induk usaha pertambangan batu bara dan mineral (nikel), tercatat pendapatannya masih meningkat, meski laba bersih menurun. HRUM mencatatkan kenaikan pendapatan selama tahun 2023, namun laba bersih terpangkas.
Pendapatan HRUM tercatat naik 2,33% (yoy) menjadi US$ 925,52 juta, dibanding pada 2022 US$ 904,43 juta. Jika dirinci, pendapatan dari kontrak pelanggan sebesar US$ 914,87 juta sepanjang tahun lalu, sementara sisanya sebesar US$ 10,64 juta berasal dari pendapatan sewa.
Setelah diakumulasikan dengan beban dan pendapatan lainnya, HRUM mengantongi laba tahun berjalan sebesar US$ 151,04 juta pada 2023, turun 49,9% (yoy) dari sebelumnya sebesar US$ 301,75 juta. Kondisi ini disebabkan terutama oleh penurunan rata-rata harga jual batu bara, sejalan dengan turunnya harga komoditas energi global sepanjang 2023.
Di sisi lain, meski masih di sektor batu bara, PT ABM Investama Tbk (ABMM) membukukan kinerja positif selama tahun lalu. Perusahaan berhasil mencatatkan kenaikan top line dan bottom line.
Sepanjang tahun 2023, ABMM meraup pendapatan dari kontrak pelanggan sebesar US$ 1,49 miliar, naik 3,47% yoy. Pendapatan emiten didominasi dari kontraktor tambang dan tambang batu bara sebesar US$ 1,24 miliar, atau mencapai 83,22% dari total pendapatan 2023. Hal ini menjadikan laba bersih tumbuh 7,07% dibandingkan laba tahun berjalan pada 2022 yang hanya US$ 260,9 juta. Hasil itu membuat laba per saham ABMM naik dari US$ 0,09 pada 2022 menjadi US$ 0,10 pada 2023. ***
* Tim Riset InvestasiKu
