Minyak Brent Meroket Hampir 5% Usai AS Jatuhkan Sanksi Baru pada Perusahaan Energi Raksasa Rusia
Poin Penting
- Harga minyak Brent naik hampir 5% setelah sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil.
- Pemerintahan Trump menuding Rusia tak serius dalam proses perdamaian Ukraina.
- Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan AS siap ambil langkah tambahan.
- Sanksi dikaitkan dengan batalnya pertemuan Trump dan Putin di Budapest.
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak melonjak sekitar 5% pada Rabu (22/10/2025) malam waktu AS setelah pemerintahan Trump memberlakukan sanksi tambahan terhadap dua perusahaan minyak mentah terbesar Rusia, dengan alasan “kurangnya komitmen serius Moskow terhadap proses perdamaian untuk mengakhiri perang di Ukraina.”
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Setelah Hamas-Israel Capai Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza
Patokan minyak global Brent naik US$3,03 atau 4,94% menjadi US$64,35 per barel pada pukul 18.01 waktu AS Timur. Minyak mentah AS naik US$1,40 atau 2,39% menjadi US$59,90 per barel. Selama perdagangan reguler, Brent telah menguat 2% dan ditutup pada US$62,59 per barel, sementara minyak mentah AS naik 2,2% menjadi US$58,50.
“Sekarang adalah waktu untuk menghentikan pembunuhan dan memberlakukan gencatan senjata segera,” ujar Menteri Keuangan Scott Bessent saat mengumumkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil.
Departemen Keuangan, kata dia, siap mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan untuk mendukung upaya Presiden Trump mengakhiri satu lagi perang. “Kami mendorong sekutu kami untuk bergabung dan mematuhi sanksi ini,” tambahnya.
Departemen Keuangan menyatakan bahwa sanksi baru ini akan merusak kemampuan Kremlin untuk mengumpulkan pendapatan guna membiayai perang melawan Ukraina.
Baca Juga
Pertemuan Trump-Putin di Hungaria Terancam Batal, Rusia Tolak Gencatan Senjata
Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada NBC News bahwa sanksi baru ini berkaitan dengan gagalnya rencana pertemuan antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Rusia Vladimir Putin di Budapest.

