Prasasti: Ekonomi RI Kuartal III-2026 Diproyeksi Tumbuh 5,2%, Waspada Tekanan di Kuartal IV
JAKARTA, investortrust.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diproyeksikan mencapai sekitar 5,2% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pemulihan ekspor manufaktur menjadi salah satu penopang utama ekonomi di tengah tekanan konsumsi rumah tangga dan meningkatnya risiko eksternal.
Proyeksi tersebut disampaikan Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menjelang pengumuman data produk domestik bruto (PDB) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan ini. Prasasti memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada di kisaran 5,2-5,4%. Dengan demikian, batas atas proyeksi tersebut setara dengan target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
Meski demikian, Prasasti mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang relatif solid pada kuartal III belum mencerminkan tekanan sesungguhnya. Pasalnya, dampak kenaikan harga minyak, fenomena El Niño, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan baru terasa lebih kuat pada kuartal IV-2026.
Baca Juga
Ketua KSSK Masih Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 di Rentang 5,4%-5,5% Secara Tahunan
Dari sisi domestik, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, meskipun momentumnya mulai melemah. Penjualan eceran riil kembali tumbuh 1,3% setelah mengalami kontraksi pada kuartal II-2026. Namun, pertumbuhan transaksi kartu dan uang elektronik melambat. Sementara itu, tingkat keyakinan konsumen mengalami penurunan meskipun masih berada di zona optimistis. Di tengah kondisi tersebut, pemulihan ekspor manufaktur menjadi pembeda sekaligus penahan perlambatan ekonomi pada kuartal III-2026.
Research Director Prasasti Adhi N. Saputro mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global. Namun, kondisi tersebut juga meningkatkan biaya bahan baku dan impor energi. Indikasi pemulihan manufaktur terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global yang meningkat dari 52,4 pada September menjadi 54,0 pada Oktober 2026. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Maret 2024.
Bahkan, pesanan ekspor baru tumbuh paling cepat sejak survei dimulai pada 2011. Sejalan dengan itu, ekspor industri pengolahan pada September 2026 meningkat 16,78% secara tahunan. Sepanjang kuartal III-2026, kenaikan ekspor manufaktur terutama ditopang produk turunan kelapa sawit dan elektronik. "Pelemahan rupiah membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global, meski sekaligus menaikkan biaya bahan baku dan impor energi," ujar Adhi.
Kendati demikian, pemulihan sektor manufaktur belum memiliki fondasi yang kuat. Investor asing mulai masuk ke sektor manufaktur, tetapi investor domestik masih menahan ekspansi. Hal itu tercermin dari realisasi investasi dalam negeri yang turun 7,5%. Selama investasi domestik belum pulih, pemulihan manufaktur masih bergantung pada permintaan ekspor yang rentan terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Baca Juga
PMI Tertinggi Sejak Maret 2024, Ekonom: Indikasi Daya Saing Manufaktur RI Menguat
Di sisi lain, tekanan eksternal semakin membebani perekonomian Indonesia. Konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi global mendorong kenaikan harga minyak, sementara Indonesia masih berstatus sebagai negara pengimpor energi. Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) rata-rata hampir mencapai US$92 per barel sepanjang Januari–September 2026. Angka tersebut jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Dampaknya mulai terlihat pada inflasi. Pada Oktober 2026, kelompok transportasi, terutama bensin, menyumbang 0,59 poin persentase terhadap inflasi tahunan.
Tekanan juga merambat ke sektor eksternal. Defisit transaksi berjalan yang melebar pada kuartal II/2026 dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar AS membuat stabilitas makroekonomi menjadi prioritas kebijakan. Sepanjang tahun ini, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin menjadi 5,75%.
Anggota Board of Advisors Prasasti sekaligus Gubernur Bank Indonesia periode 2003–2008, Burhanuddin Abdullah, menilai fungsi suku bunga saat ini telah bergeser menjadi instrumen untuk menjaga kepercayaan pasar. "Suku bunga bukan lagi sekadar alat pendorong pertumbuhan, melainkan jangkar kepercayaan. Pelonggaran yang terlalu dini bisa memicu tekanan pada rupiah, dan ongkosnya bagi pertumbuhan justru lebih mahal," ujarnya.
Target Ekonomi 5,4% Menantang
Prasasti menilai target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4% semakin menantang, meskipun masih mungkin dicapai. Guna merealisasikan target tersebut, ekonomi Indonesia harus tumbuh sekitar 5,5% secara tahunan pada kuartal IV-2026. Tantangannya, pertumbuhan tersebut harus dicapai di tengah basis perbandingan yang tinggi, yakni 5,39% pada kuartal IV/2025.
Setidaknya terdapat tiga tekanan utama yang berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir tahun ini. Pertama, harga minyak yang tetap tinggi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi, menekan margin dunia usaha, serta memperbesar tagihan impor energi. Kedua, fenomena El Niño berisiko menekan produksi pangan, khususnya beras. Produksi padi tercatat turun 18,3% pada September dan diperkirakan kembali turun 16,3% pada periode Oktober–Desember 2026.
Baca Juga
Lapor ke Prabowo, Airlangga Pastikan Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat
Penurunan produksi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga bahan pokok, terutama ketika inflasi sudah bertahan di atas 3%. Kelompok masyarakat berpendapatan rendah menjadi pihak paling rentan karena pangan mengambil porsi terbesar dari pengeluaran mereka, sementara tabungan semakin menipis. Ketiga, kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung hingga Oktober di Kalimantan dan Sumatra berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi serta menimbulkan kerugian ekonomi besar.
Adhi menegaskan, angka pertumbuhan ekonomi kuartal III perlu dibaca dengan mempertimbangkan jeda waktu dampak berbagai tekanan tersebut. "Angka kuartal III terlihat solid karena sebagian tekanan belum sepenuhnya merambat ke perekonomian. Ada jeda dari fluktuasi harga minyak, penurunan panen, dan karhutla. Dampaknya baru akan terasa penuh pada kuartal IV, tepat ketika ekonomi justru dituntut tumbuh lebih cepat," katanya.
Prasasti juga mengingatkan bahwa kemampuan pemerintah dan otoritas moneter untuk meredam tekanan ekonomi semakin terbatas. Dari sisi moneter, Bank Indonesia harus menjaga stabilitas rupiah sehingga ruang untuk menurunkan suku bunga masih terbatas.
Sementara itu, dari sisi fiskal, kenaikan harga minyak berisiko meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi pada kuartal IV-2026. Kondisi tersebut terjadi ketika proyeksi defisit APBN sudah mendekati batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Karena itu, memaksakan pertumbuhan melalui peningkatan belanja pemerintah, ekspansi kredit, maupun kegiatan kuasi-fiskal berisiko menggerus bantalan fiskal dan stabilitas eksternal.
Baca Juga
Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,2%, OCBC Ungkap Peluang Investasi di ASEAN
Senior Economist Prasasti Piter Abdullah mengatakan, pemerintah perlu mengutamakan kebijakan nonfiskal untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui relaksasi hambatan perdagangan non-tarif dan peningkatan kepastian regulasi.
Dalam jangka pendek, percepatan penetapan Neraca Komoditas 2027, termasuk kuota impor bahan baku, dinilai mendesak agar dunia usaha memiliki kepastian dalam menyusun rencana operasional. Terlebih, momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) akan segera disusul Ramadan dan Idulfitri.
Piter menilai kepastian kuota impor bahan baku dapat membantu dunia usaha mempersiapkan kegiatan produksi dan memenuhi kebutuhan pasar pada periode tersebut. Dengan ruang fiskal dan moneter yang semakin terbatas, Prasasti menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi perlu dibangun di atas fondasi yang lebih kuat, bukan semata-mata mengandalkan tambahan stimulus pemerintah.
