Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,2%, OCBC Ungkap Peluang Investasi di ASEAN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia akan mencapai sebesar 5,2% pada tahun 2026. Ketahanan ekonomi nasional dinilai tetap kokoh berkat sokongan kuat dari konsumsi rumah tangga dan realisasi investasi domestik di tengah dinamika perdagangan serta kondisi keuangan global yang penuh tantangan.
Prospek optimistis tersebut disampaikan dalam acara Media Briefing bertajuk "OCBC Outlook - ASEAN Opportunity: Business Growth & Wealth Expansion" yang digelar di The Westin Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Chief Economist & Head OCBC Group Research Selena Ling mengungkapkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia memberikan fondasi jangka panjang yang solid. Pengembangan kapasitas industri, hilirisasi, serta transformasi infrastruktur digital menjadi motor penggerak utama pertumbuhan di kawasan ASEAN.
"Indonesia tetap memiliki fondasi pertumbuhan yang ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi. Kami memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2% pada tahun 2026. Pengembangan industri dan infrastruktur digital juga menghadirkan peluang jangka panjang," ujar Selena Ling.
Meski demikian, Selena mengingatkan agar para pelaku pasar dan investor tetap waspada terhadap volatilitas pasar global.
"Para investor perlu memantau inflasi AS, arah suku bunga (kebijakan The Fed), serta risiko geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal dan biaya pendanaan (cost of fund)," tambahnya.
Dalam skala regional, OCBC mencatat ASEAN menawarkan sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat beragam dan saling melengkapi. Indonesia ditopang oleh kekuatan pasar domestik yang luas, pengembangan kapasitas industri/hilirisasi, serta akselerasi infrastruktur digital.
Kemudian, Vietnam menjadi pusat keunggulan manufaktur di kawasan. Lalu, Malaysia dan Singapura unggul dalam sektor elektronik, layanan finansial, serta pusat infrastruktur digital.
Khusus di Indonesia, pengembangan penekanan investasi digital difokuskan pada pemanfaatan komputasi awan (cloud), pusat data (data center), serta infrastruktur kecerdasan buatan (AI) guna memperkuat konektivitas ekonomi regional.
Baca Juga
OCBC (NISP) Catat Bisnis Wealth Management Tumbuh 29%, Tembus Rp 120 Triliun
Menanggapi dinamika risiko dan peluang tersebut, Wealth Management Advisory Head OCBC in Indonesia Diamond Stole menegaskan pentingnya fleksibilitas serta perencanaan investasi yang terukur bagi para nasabah dan investor.
"Di OCBC, kami melihat potensi pertumbuhan Indonesia dan ASEAN sebagai peluang jangka panjang bagi nasabah untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan (wealth management). Kesiapan untuk menangkap peluang tersebut perlu dibangun sejak sekarang melalui perencanaan yang matang dan strategi yang dapat beradaptasi," tutur Diamond Stole.
Menurut Diamond, ketahanan ekonomi harus diimbangi dengan manajemen risiko yang matang. Dalam mengambil keputusan investasi pada instrumen saham maupun obligasi, investor disarankan untuk melakukan evaluasi secara selektif terhadap valuasi, kualitas aset, risiko suku bunga, serta eksposur mata uang.
"Dengan pendampingan yang personal, kami membantu nasabah menjaga arah untuk menuju tujuan finansial mereka, menghubungkan peluang pasar dengan likuiditas, profil risiko, dan jangka waktu investasi," pungkasnya.
Baca Juga
Kredit Tumbuh 16%, Laba Bersih OCBC (NISP) Naik 5% hingga September 2026
Indikator Risiko yang Perlu Dicermati Investor
Guna menjaga ketahanan portofolio di tengah arus pasar, OCBC menyoroti beberapa indikator kunci yang wajib dipantau oleh investor. Pertama, inflasi AS dan kebijakan The Fed. Menurutnya, hal ini berdampak langsung pada pergerakan nilai tukar Rupiah, arus modal keluar/masuk (capital flow), serta biaya pendanaan.
Kedua, geopolitik dan harga energi global. Berpotensi memicu lonjakan biaya impor, mengganggu rantai pasok distribusi, dan menekan daya beli masyarakat.
Ketiga, realisasi konsumsi dan investasi domestik. Dalam hal ini, menjadi tolok ukur utama keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, daya serap tenaga kerja, dan kapasitas produksi nasional.
Keempat, kepercayaan pasar dan perkembangan indeks MSCI menjadi variabel krusial dalam menilai prospek arus modal asing di pasar saham Indonesia.
