Rupiah Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS, Berada di Level Rp 18.118 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (4/11/2026). Rupiah menguat 0,23% dibandingkan penutupan sehari lalu ke posisi Rp 18.118 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan juga terpantau menguat dibandingkan penutupannya. Yen Jepang menguat 0,54%, rupee India menguat 0,16%, won Korea Selatan menguat 0,53%, ringgit Malaysia menguat 0,14%, bath Tailan menguat 0,17%, dan dolar Singapura menguat 0,12%.
Sementara itu, dolar Taiwan dan yuan China terpantau masing-masing melemah 0,13% dibandingkan sesi penutupannya.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskam bahwa indeks dolar AS (DXY) menguat 0,12% ke level 101,87 dan telah terapresiasi 3,61% ytd. Pelemahan ini didukung oleh data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat serta ketidakpastian terkait pemilu.
Jumlah lowongan pekerjaan AS berdasarkan JOLTS pada September 2026 meningkat tajam menjadi 7,52 juta, melampaui ekspektasi pasar dan mengindikasikan permintaan tenaga kerja yang masih kuat.
Baca Juga
Di sisi domestik, hasil pemilihan paruh waktu AS hingga pagi ini masih belum dapat dipastikan. Partai Demokrat diperkirakan berpeluang memperoleh kendali atas House of Representatives, sementara persaingan untuk menguasai Senat masih berlangsung ketat. Kondisi ini berpotensi mempertahankan tingginya ketidakpastian terkait kebijakan fiskal, regulasi, dan pasar.
The Fed masih mempertahankan sikap hawkish pause, dengan pasar memperhitungkan probabilitas sekitar 79% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember.
Peningkatan jumlah lowongan pekerjaan, aktivitas ekonomi yang tetap tangguh, serta inflasi yang masih berada di atas target terus memperkuat alasan bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.
Sementara itu, laporan ketenagakerjaan AS untuk Oktober yang akan dirilis pada Jumat akan menjadi indikator penting lainnya dalam menentukan prospek kebijakan moneter pada Desember.
Andry juga mencermati harga minyak mentah Brent turun tipis 0,34% menjadi US$ 104,4 per barel, melanjutkan koreksi tajam dari level tertingginya pada akhir Oktober. Harapan terhadap dimulainya negosiasi antara AS dan Iran terus mengurangi premi risiko geopolitik.
Akan tetapi, pernyataan yang saling bertentangan dari kedua pihak serta aktivitas militer yang masih berlangsung menunjukkan bahwa risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.
