Pemerintah Ingin Tiru Model Ekonomi Bali Menjaga Pasokan Dolar AS
Poin Penting
|
BALI, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah berkeinginan meniru model pengembangan ekonomi yang diterapkan di Bali.
Sebagai salah satu destinasi wisata dunia, Bali dinilai mampu menjual produk berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah dalam dolar AS, sehingga dapat menjaga pasokan dolar Amerika Serikat. Dalam hal ini Airlangga berharap Indonesia juga mampu menawarkan produk-produk dengan nilai jual dalam dolar AS, atau memperbesar produk berorientasi ekspor, sehingga mampu meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri.
"Bali termasuk yang dolar AS base ekonominya. Tetapi produk yang laku di sini kan yang berbasis produk UMKM, bukan produk yang high fashion, branded imported, tapi betul-betul lokal, jadi kita harus belajar dari Bali," kata Airlangga saat menghadiri International Fora for Kredit Program Pemerintah di Bali pada Kamis, (29/10/2026).
Membahas perkembangan nilai tukar rupiah yang sangat dipengaruhi pergerakan dolar AS, Airlangga mengungkapkan terdapat negara lain yang mengalami depresiasi mata uang hingga lebih dari 50%, sementara rentang rupiah masih terjaga di level Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik karena pemerintah terus menjaga fundamental ekonomi nasional. "Yang kita harus juga awasi adalah sentimental value, karena ekonomi selain fundamental juga ada pengaruh sentimental. Tetapi kalau kita bersama-sama memanfaatkan itu, ekonomi resilience kita lebih kuat," ucap Airlangga.
Dalam kesempatan terpisah, di Jakarta, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bahwa bank sentral akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Destry menyebut bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih tangguh. Akan tetapi, terdapat banyak faktor eksternal yang membuat pergerakan rupiah tertekan.
“Pergerakan rupiah itu kan sangat tergantung dari fluktuasi. Karena ini adalah market bebas dan pergerakan rupiah itu sangat tergantung juga dari supply, demand, dan persepsi,” kata Destry.
Baca Juga
Hashim Minta Anggota Kadin Tak Goreng Saham, Bisa Bikin Rupiah Tembus Rp 22.000 per Dolar AS
Destry menilai, penguatan rupiah yang terjadi pada hari ini terjadi karena the Fed menahan suku bunga acuannya. Seperti diketahui, the Fed menahan Fed Fund Rate atau FFR di posisi 3,75-4%.
“Jadi, banyak faktor di luar kontrol kita. Tapi, kami di BI kita sudah punya komitmen yang kuat bahwa fokus kita adalah menjaga stabilitas,” ujar dia.
Destry menjelaskan upaya menjaga stabilitas nilai tukar tersebut demi menjaga iklim ekonomi kondusif. Dengan begitu, sektor riil bisa tumbuh dan dapat membuka lapangan pekerjaan.
Baca Juga
Rupiah dan Sejumlah Mata Uang di Asia Menguat, Imbas The Fed Tahan FFR
Sementara itu Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie menjelaskan ingin terus menguat devisa Indonesia. Salah satunya dengan membawa inisiatif We Buy from Indonesia. Inisiatif ini diikuti dengan pengembangan UMKM.
“Ekspor Indonesia harus meningkat agar bisa menguatkan devisa, mempertahankan rupiah, dan lain-lain,” ujar Anindya.
Anindya mengatakan bahwa dia ingin ekspor Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor dari komoditas minyak sawit, batubara, dan besi dan baja. Dia ingin ekspor Indonesia juga dihasilkan dari berbagai kesepakatan dagang dengan beberapa negara di antaranya Uni Eropa, Asia Tengah, dan Kanada.
“Jadi Indonesia fokusnya bagaimana? Bukan saja meningkatkan ekspor, tapi juga inklusif. Sehingga, teman-teman di supply chain bisa terbawa,” ujar dia.
Selain itu, Anindya menjelaskan bahwa asosiasi pengusaha ingin terus mendorong investasi masuk ke Tanah Air.
“Bukan hanya investasi pasar modal, tapi juga investasi yang bersifat jangka panjang,” jelas dia.
