Rupiah Makin Terjerembab ke Rp 18.127 per Dolar AS, Gubernur BI Beri Jawaban
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah 0,26% ke posisi Rp 18.127 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (26/10/2026). Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan bahwa bank sentral Indonesia akan tetap hadir di pasar menjaga stabilitas nilai tukar.
“Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply dan demand hari ini. Tetap kita monitor pergerakannya,” kata Destry, usai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF), di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Destry menjelaskan bahwa BI tidak akan mengubah strategi intervensi. Menurutnya, pergerakan rupiah hari ini yang menembus Rp 18.000 per dolar AS sebagai pergerakan nilai tukar biasa.
“Kita akan terus monitor. Kita lihat root cause-nya juga,” kata dia.
Program B50 dan E50 bakal kurangi beban defisit
Dalam paparannya, Destry menjelaskan bahwa BI akan terus menerapkan kebijakan yang bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja. Dalam kesempatan yang sama Destry juga menyampaikan rasa syukur bahwa pemerintah telah berupaya mengurangi impor energi dalam bentuk solar dan bensin dengan penerapan program B50 dan E50. Langkah ini dipastikan akan mengurangi defisit akibat impor bahan bakar.
“Ini akan mengurangi impor energi yang sekarang ini menyebabkan defisit kita membesar. Sehingga ujungnya ke mana? ke currency kita,” ujar dia.
Selain itu, BI juga aktif menggunakan strategi Local Currency Transaction atau LCT. Saat ini, Indonesia sudah bekerja sama dengan tujuh negara mitra.
“Saat ini transaksinya sudah mencapai sekitar US$ 55 miliar padahal tahun lalu itu baru sekitar US$ 25 miliar,” kata dia.
Transaksi LCT paling besar tercatat dalam transaksi perdagangan dengan China. Kebijakan LCT juga dipastikan akan menekan transaksi internasional yang menggunakan mata uang dolar AS.
Selain LCT, BI juga mengembangkan QRIS lintas dengan tujuh negara. Upaya penjajakan QRIS lintas negara ini terus dilakukan BI untuk mempermudah akses pembayaran.
“Jadi bilateral approach terus kita lakukan. Karena dalam kondisi kayak gini memang yang menjadi lebih efektif adalah pendekatannya sifatnya bilateral,” kata dia.
