BI Jelaskan Latar Belakang Turunkan GWM dan Naikkan Deposit Facility
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia (BI) Firman Mochtar menjelaskan alasan bank sentral menurunkan giro wajib minimum (GWM) dan menaikkan deposit facility. Penurunan GWM merupakan bagian untuk menyeimbangkan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
“Jangan sampai, likuiditas yang terjadi itu di bawah kebutuhan fundamentalnya,” kata Firman, saat taklimat media, di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Upaya ini dilakukan agar likuiditas ini konsisten sejalan dengan BI Rate serta prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi. GWM yang turun 2% dari DPK, dari awalnya 9% dari DPK menjadi 7% dari DPK.
Penurunan 2% ini berlaku secara dua tahap pada 1 November 2026 dan 1 Desember 2026. Dengan penurunan ini membuat perbankan akan mendapat tambahan likuiditas.
“Kita turunkan 1% (dapat tambahannya) sekitar Rp 90 triliun. Jadi akan ada tambahan uang,” jelas dia.
Selain penurunan GWM, BI juga turun menyesuaikan Kebijakan Intensif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar 1% sehingga menjadi 5%. Penurunan ini melihat evaluasi KLM kepada perbankan yang telah menyalurkan kredit ke beberapa sektor.
“Karena ada beberapa sektor, yang kita melihat sudah mulai baik,” kata dia.
Selain menurunkan GWM dan KLM, Firman mengatakan bahwa BI juga mengubah kebijakan tentang deposit facility. BI menaikkan deposit facility dari 4,75% menjadi 5%.
Kenaikan deposit facility dilakukan BI karena ingin menormalisasi posisi suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAP) atau INDONIA.
Dalam pantauan investortrust, sehari sebelum dimulainya Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, INDONIA bergerak di angka 4,99% mendekati deposit facility sebesar 4,75%.
Firman mengatakan BI ingin gap yang muncul dari INDONIA tak berjarak terlalu jauh dari BI Rate.
“Sebelumnya kan 100 basis poin, sekarang dia (deposit facility) kita naikkan 25 basis poin. Mengapa ini kita lakukan? Kita ingin agar sinyal dari BI Rate itu akan bergerak simetris di dalam koridor 75 basis poin bersamaan dengan menyimbangkan likuiditas,” ujar dia.
Dengan keseimbangan deposit facility dan lending facility, BI berharap semua transmisi dari BI rate mengarah ke arah kegiatan ekonomi di perbankan dan pertumbuhan ekonomi, dan menjaga inflasi.
Baca Juga
BI Proyeksikan Penurunan GWM 2% Tambah Likuiditas Perbankan Rp 190 Triliun
Upaya ini tak lain karena BI melihat transmisi kebijakan moneter tidak bisa seketika dampaknya. Keputusan BI Rate tersebut bergerak 4-6 bulan.
“Karena dia harus bertransmisi dulu lewat perbankan, pasar saham, kegiatan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi,” ucap dia.
Selain itu, Firman juga melihat langkah BI menahan suku bunga acuan karena melihat inflasi yang masih sesuai jangkar.
“BI Rate kita pertahankan tetap karena inflasinya masih oke. Tapi, kita melihat memang adanya tekanan kurs,” ucap dia.
