DPR Minta Influencer Kripto Wajib Punya Latar Belakang Pendidikan dan Sertifikasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun memberikan penekanan serius terhadap masa depan industri aset digital di Indonesia. Misbakhun menegaskan bahwa kripto kini telah menjadi bagian integral dari industri jasa keuangan nasional yang memerlukan pengawasan serta integritas dari para pelakunya.
Misbakhun menyoroti peran krusial para pembuat konten atau influencer dalam membangun ekosistem ini. Menurutnya, influencer memiliki tanggung jawab besar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.
"Peran influencer itu menjadi sangat penting untuk apa? Memberikan edukasi dalam rangka menaikkan literasi masyarakat supaya inklusinya naik. Permasalahannya adalah jangan sampai para influencer ini kemudian menyesatkan gitu, memberikan pengaruh buruknya," ujar Misbakhun dalam acara INDODAX 12th Anniversary: On Chain, Forever Forward di Midaz Senayan Golf, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Lebih lanjut, politisi senior ini mengkhawatirkan dampak negatif jika narasi kripto hanya dipenuhi oleh kisah-kisah kerugian akibat penipuan. Ia berharap industri ini dikenal karena manfaat investasinya, bukan karena skandal.
"Jangan sampai kemudian cerita mengenai kripto ini bukan cerita indah orang soal mendapatkan benefit investasi, tapi cerita kasus ke kasus yang lain sehingga memberikan pengaruh buruk terhadap industri jasa keuangannya. Aset digitalnya ini kemudian dipelesetkan, kemudian penuh dengan permainan, kemudian penuh dengan bujuk rayu, kemudian penuh dengan tipu daya," tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Misbakhun juga memperingatkan bahwa citra buruk akibat praktik yang tidak etis dapat membunuh potensi besar bagi generasi muda. Padahal, menurut pantauannya, instrumen ini adalah peluang emas.
"Akhirnya orang takut, padahal kalau kita perhatikan ini adalah sebuah opportunity paling besar bagi anak-anak muda dalam melakukan investasi," jelas Misbakhun.
Baca Juga
32 Finfluencer Lagi Disorot, OJK Gelar Rapat dengan Asosiasi Financial Planner
Terkait regulasi ke depan, Misbakhun mengungkapkan rencana untuk memperketat standarisasi bagi mereka yang memberikan edukasi keuangan di ruang publik. Ia mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberlakukan sertifikasi bagi para pembuat konten.
"Kita minta sekarang kepada OJK, kita yang minta kepada OJK, di sektor jasa keuangan itu siapa yang ingin menjadi influencer dia harus tersertifikasi. Oh! Kalau dia tidak mempunyai background latar belakang baik itu pendidikan maupun pengalaman, dia tidak boleh jadi influencer," tegasnya.
Ia juga menyoroti adanya konflik kepentingan yang kerap terjadi saat seorang edukator juga merangkap sebagai penjual komoditas tertentu dalam satu wadah yang sama. Misbakhun mengimbau agar ada pemisahan peran yang jelas demi menjaga integritas pasar.
"Jangan kemudian jadi influencer dagangan koin, kemudian memberikan pengaruh, terus membikin kelas, gitu. Ini harus dipisah perannya. Jangan kemudian di satu boks dijadikan satu. Ini yang akan merusak, ini yang akan merusak," tambahnya lagi.
Di sisi lain, Misbakhun menekankan pentingnya kedaulatan yurisdiksi nasional dalam perdagangan aset kripto di Tanah Air. Ia ingin memastikan bahwa seluruh ekosistem ekonomi dari perdagangan ini dinikmati oleh bangsa sendiri melalui aturan yang tegas.
"Dan saya minta kepada OJK untuk hal-hal yang seperti ini ditertibkan. Termasuk kemudian yang ke depan kita akan menggunakan mekanisme yang keras apabila ada aturan-aturan yang dilanggar karena apa? Kita kepingin penguatan yurisdiksi nasional kita. Siapa yang berdagang kripto di Indonesia harus menggunakan yurisdiksi, website atau apa pun di Indonesia," tegasnya.
Baca Juga
OJK Fines Influencer Belvin Tannadi $330,000 in Landmark Market Manipulation Case
Masa Depan Aset Kripto
Sementara itu, Content Creator sekaligus CEO Malaka Ferry Irwandi memberikan pandangannya mengenai masa depan aset kripto di Indonesia. Ferry menekankan bahwa saat ini ekosistem aset digital di Tanah Air masih berada pada tahap yang sangat awal.
Ia mengimbau para pelaku industri untuk menyikapi dinamika pasar dengan bijak, mengingat fondasi industri yang masih dalam proses pertumbuhan. Ferry mengakui bahwa tantangan yang dihadapi investor saat ini tidaklah mudah, terutama dengan kondisi ekonomi makro yang tidak menentu.
"Ya kita kan, ini kan masa awal. Awal, iya ini masa awal. Di Indonesia juga industrinya masih merangkak, industrinya masih baru tumbuh. Ya pasti memang gocekannya itu nggak ringan, apalagi keadaan global sekarang sangat volatile gitu," jelas Ferry.
Meski penuh guncangan, Ferry tetap optimis terhadap keberlangsungan teknologi blockchain di masa depan. Menurutnya, adopsi teknologi yang masif menjadi alasan utama mengapa industri ini layak dipertahankan. Ia berpendapat bahwa desentralisasi tetap menjadi daya tarik utama bagi pemegang modal di tengah ketidakpastian global, yang membuat potensi pertumbuhan industri ini masih sangat terbuka lebar.
Mengenai dinamika pasar yang sering kali mengalami koreksi tajam, Ferry menganggap hal tersebut sebagai bagian alami dari proses pendewasaan sebuah sektor baru.
"Intinya kalau memang mau tetap stay, ya gua secara pribadi itu yakin ini industri akan jadi future ke depannya karena teknologi yang di-adopt kan bukan main-main ya, dan orang juga akan ke sana pada akhirnya. Melihat lagi volatilitas seperti ini juga sebagai seorang investor atau orang yang memegang uang ya, ke mana kita mau pergi lagi? Tetap ke hal-hal yang menjamin desentralisasi ini kan. Jadi makanya potensinya masih sangat besar. Kalau ada kocokan, rontok, ya itu bagian dari dinamika industri yang memang baru tumbuh," ujarnya.
Lebih jauh, Ferry menyoroti pentingnya narasi yang sehat dalam membangun kepercayaan publik. Ia mengkritik keras gaya edukasi yang sering kali memberikan perbandingan tidak relevan atau klaim yang berlebihan.
"Jadi ya balik lagi basic-nya kan kayak kata Robert Kiyosaki itu, narrative economics itu kan trust ya. Nah, buat para edukatornya juga mulailah, mulailah ngajarin yang benar gitu. Jangan, jangan lagi apa ya, ngebandingin hal-hal yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi yang membuat publik juga semakin awam. Apalagi ketika publik semakin skeptis, industrinya susah naik, ya kan? Kalau publik itu, nggak semua orang pinter ngerti kripto. Tidak semua orang yang udah sekolah tinggi, profesor, doktor itu paham dunia cryptocurrency seperti apa. Dan pas narasi yang keluar itu konyol, sentimen negatif itu akan semakin besar," ucap Ferry.
Ferry mengingatkan para edukator agar memberikan pemahaman yang benar dan logis untuk menghindari skeptisisme masyarakat yang justru dapat menghambat pertumbuhan industri secara kolektif. Ferry secara khusus menyoroti narasi yang dianggapnya tidak masuk akal, seperti klaim bahwa kripto akan mematikan mata uang fiat tertentu.
"Tahu narasi konyol kayak gimana? Cryptocurrency akan menggantikan dolar, dolar akan mati. Ya, come on lah gitu, itu white paper cuma sembilan halaman lho gitu, bisa dibaca gitu. Atau apa pun fungsi utility yang ada di berbagai koin yang ada. Nah, hal-hal seperti ini yang harus ditonjolkan supaya trust publik juga semakin tinggi," jelas Ferry.
Ferry memaparkan data perbandingan market cap kripto di Indonesia yang masih sangat kecil jika dibandingkan dengan skala global. Dengan populasi Indonesia yang besar, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga ekosistem agar terus berkembang secara sehat.
"Market cap kita masih Rp 650 triliun, jauh banget. Jauh banget dari global US$ 3,2 triliun gitu. Itu kan jauh banget kalau dipresentasein cuma 1,2 atau 1,3%. Padahal jumlah populasi kita segini banyak, kita negara yang besar sekali, negara yang terintegrasi dengan dunia, ya balik lagi sama-sama jagalah ekosistemnya," pungkas Ferry.

