Ada Disparitas Kualifikasi SDM, Hanya 9,1% Pegawai Bank Syariah Berlatar Belakang Pendidikan Ekonomi Syariah
JAKARTA, investortrust.id - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof Nur Hidayah menyebutkan, terdapat disparitas dalam kualifikasi sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di industri syariah Indonesia. Saat ini, hanya sekitar 9,1% pegawai bank syariah yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi syariah.
“Ada ketidaksesuaian kompetensi lulusan rumpun program ekonomi dan keuangan syariah dengan apa yang dibutuhkan industri,” kata Nur Hidayah dalam diskusi virtual yang digelar Universitas Paramadina bersama Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Kamis (4/4/2024).
Masalah tersebut, menurut Nur Hidayah, harus segera diatasi. “Artinya, kualitas pendidikan untuk program studi dalam rumpun ekonomi dan keuangan syariah perlu terus ditingkatkan," tegas dia.
Baca Juga
OJK: Pengembangan Ekosistem Kunci Mendorong Industri Keuangan Syariah
Dia menjelaskan, terdapat 800 lebih program studi ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air, namun masih banyak yang belum terakreditasi. Hal yang sama ditemukan pada lembaga sertifikasi kompetensi profesi di bidang ekonomi dan keuangan syariah.
Nur Hidayah mengungkapkan, pada 2020 hanya terdapat 231 lulusan tenaga ahli tersertifikasi di bidang ekonomi dan keuangan syariah.
"Artinya di sini kebanyakan dari lulusan-lulusan program studi di rumpun ilmu ekonomi dan keuangan syariah bisa dikatakan belum siap pakai karena belum ada link and match yang kuat antara perguruan tinggi dan industri," papar dia.
Nur Hidayah menambahkan, saat ini hanya sekitar 9,1% pegawai bank syariah yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi syariah. Alhasil, 90% lebih suplai tenaga kerja di bidang perbankan dan keuangan syariah diisi lulusan yang beragam atau nonsyariah.
"Nah, artinya disini ada terjadi disparitas kualifikasi dan kompetensi pegawai pada industri di sektor ekonomi dan keuangan syariah," tutur dia.
Kurikulum Harus Dirombak
Hal berbeda ditemukan Nur Hidayah dalam perspektif akademik. Berdasarkan data Islamif Finance Development Indicator (IFDI), Indonesia bertengger di posisi nomor satu dunia dalam kriteria pengetahuan bidang ekonomi dan keuangan syariah.
IFDI menempatkan berbagai indikator, seperti banyaknya penyelenggaraan pendidikan di bidang ekonomi dan keuangan syariah serta edukasi-edukasi seperti kursus dan sejenisnya. Selain itu, terdapat sekitar 87% jurnal di bidang ekonomi dan keuangan syariah berasal dari Indonesia.
"Ini artinya potensinya luar biasa dan ternyata prestasi ini diakui secara dunia," tegas Nur Hidayah.
Baca Juga
Tantangan Keuangan Syariah: Sosialisasi Minim hingga Kurangnya Kuantitas SDM
Untuk menjawab tantangan disparitas kualifikasi SDM di bidang ekonomi syariah, Nur Hidayah mengusulkan penyatuan satu atap lembaga-lembaga pendidikan.
Saat ini, kata dia, terdapat dikotomi lembaga di bawah naungan Kemendikbud Ristek dan Kementerian Agama (Kemenag). "Kita satukan dalam satu atap di kementerian pendidikan agar tadi standar semuanya itu menjadi sama," tandas dia.
Selain itu, Nur Hidayah mengusulkan perombakan kurikulum ekonomi dan keuangan syariah agar lebih sesuai kebutuhan industri. “Dengan demikian, para lulusan memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan tidak hanya ilmu syariahnya, tapi juga ilmu di bidang ekonomi, keuangan, dan perbankan," ucap dia.

