Sektor Industri Lesu, Rektor Universitas Paramadina Ingatkan PR Darurat Menperin Sarmuji
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pergantian Menteri Perindustrian (Menperin) oleh Presiden Prabowo Subianto dihadapkan pada tantangan berat membenahi sektor industri manufaktur nasional yang dinilai kian lesu. Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai pengangkatan Menperin yang baru serta pengesahan RAPBN 2027 menjadi momentum krusial untuk menyelamatkan sektor penopang terbesar ekonomi nasional tersebut.
Didik menyoroti tren pertumbuhan sektor industri yang terus merosot selama dua tahun terakhir. Pada kuartal II-2025 hingga kuartal II-2026, tingkat pertumbuhan sektor industri turun signifikan dari 5,48% menjadi hanya 4,5%.
"Dengan kue PDB atau bobot sektor industri sebesar 19 persen, maka secara sederhana hanya akan memberi kontribusi sebesar 0,86 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Di masa lalu, pertumbuhan ekonomi 7 persen didukung oleh pertumbuhan sektor industri hingga dua digit," ujar Didik dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/10/2026).
Menurut Didik, kondisi sektor industri saat ini berada dalam tingkat yang memprihatinkan akibat ketimpangan pertumbuhan antar-subsektor dan hilangnya momentum karena tersalip negara-negara tetangga. Indikator manufaktur juga sempat berfluktuasi tajam, di mana Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur sempat jatuh ke level kontraksi 46,9 pada Juni dan 49,8 pada Agustus, sebelum akhirnya merangkak naik ke 52,4 pada September 2026.
Target RPJMN Terancam Mustahil Ditercapai
Lemahnya kinerja manufaktur dinilai mengancam target resmi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Pemerintah menargetkan kontribusi industri manufaktur terhadap PDB meningkat dari baseline 18,67% menjadi 21,9% pada 2029, seiring target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.
Baca Juga
Dilantik Prabowo sebagai Menperin, Sarmuji Janji Bakal Mundur dari DPR
"Bagaimana bisa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 7 persen hingga 8 persen jika kondisi sektor industri lemah dan menurun seperti dua tahun terakhir ini? Target ini sudah pasti mustahil bisa dicapai jika kebijakan ekonomi dan industri tidak berubah alias berjalan business as usual," tegas Ekonom Senior tersebut.
Di sisi lain, Didik menilai postur RAPBN 2027 yang baru saja disahkan belum memberikan sinyal dorongan khusus terhadap sektor produktif. Menurutnya, desain kebijakan fiskal yang memuat defisit cukup besar cenderung dialokasikan untuk pembayaran utang dan kewajiban program sosial (mandatory spending), alih-alih ekspansi produktif.
Ia pun mendesak Menperin yang baru untuk segera meninggalkan pola kebijakan lama demi mengakselerasi industrialisasi nasional.
"Jika tidak ada perubahan kebijakan dari sektor ini, maka jangan harap ekonomi bisa tumbuh sampai 7-8 persen. Lupakan cita-cita pemerintah yang berjanji kepada rakyat untuk mendorong ekonomi tumbuh tinggi jika sektor industri dibiarkan status quo," pungkas Didik.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya resmi melantik Muhammad Sarmuji menjadi Menteri Perindustrian (Menperin) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Sarmuji dilantik sekaligus menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita yang sebelumnya menduduki jabatan tersebut.
