Minat Siswa Pelajari STEM Menurun, BI Usulkan Insentif untuk Talenta Teknologi
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengusulkan pemberian insentif bagi siswa yang memiliki minat dan kemampuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Langkah tersebut dinilai perlu untuk mendorong peningkatan jumlah lulusan STEM di Indonesia.
Destry mengatakan, minat siswa untuk masuk ke bidang STEM relatif semakin berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja dengan talenta yang memiliki kemampuan teknologi tinggi. “Tentunya dari kita semua, regulator, pemerintah, itu harus memikirkan apa kira-kira insentif yang bisa mereka terima, kalau mereka memang punya kemampuan teknologi yang tinggi,” ujar Destry dalam acara FEKDI x ISEF 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (25/9/2026).
Menurut Destry, ketersediaan tenaga kerja dengan talenta teknologi tinggi saat ini masih terbatas. Karena itu, diperlukan upaya untuk mendorong lebih banyak siswa memilih bidang STEM. “Karena faktanya memang masih terbatas,” kata dia.
Baca Juga
Destry menyadari serapan lulusan bidang teknologi masih sangat terbatas. Untuk mendorong pertumbuhan talenta digital di Tanah Air, BI menghadirkan sejumlah program melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). “Kita berusaha untuk up scaling dan reskilling SDM digital yang sekarang menjadi agenda yang mendesak karena inovasi berubah dengan cepat,” ujar dia.
Selain pertumbuhan talenta digital, Destry menekankan pentingnya peningkatan keterampilan dan literasi digital masyarakat. Berdasarkan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI), indeks keterampilan dan literasi digital masyarakat mengalami penurunan. Pada 2024, indeks tersebut mencapai 58,25, kemudian turun menjadi 49,28 pada 2025.
“Yang kami inginkan adalah jangan kita menjadi konsumen untuk teknologi itu, tapi kita juga harus bisa menjadi produser, untuk menciptakan teknologi yang impactful dan tentunya inklusif buat masyarakat,” ujar Destry.
Minat Jurusan MIPA Turun
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyadari adanya penurunan minat siswa untuk mempelajari ilmu pengetahuan fundamental, seperti matematika, kimia, dan fisika.
Menurut Brian, kondisi tersebut terlihat dari turunnya peminat jurusan hard science atau MIPA. “Jadi banyak sekali anak-anak sekarang memang lebih memilih bidang-bidang yang mungkin tidak lagi ada matematikanya, tidak ada fisikanya, padahal justru kemajuan sains dan teknologi itu backbone-nya adalah basic science, hard science, dan hard engineering,” kata dia.
Baca Juga
Bahas Investasi hingga Teknologi, Indonesia-Bulgaria Perkuat Kerja Sama Industri
Brian menyebut kebutuhan lulusan STEM ke depan akan tumbuh seiring dengan inovasi yang dihasilkan. Salah satu teknologi yang diproyeksikan menjadi tren ke depan adalah komputasi kuantum. “Kuantum komputasi ini membuat perhitungan menjadi bisa berjalan sangat cepat,” kata Brian.
Dia menjelaskan, pengembangan komputasi kuantum dengan kecerdasan buatan (AI) akan membuat teknologi bergerak melampaui kemampuan manusia.
Berdasarkan data Future of Jobs Report 2025 yang dirilis World Economic Forum, tiga kemampuan yang tumbuh di dunia pada 2025-2030 adalah AI dan big data, network and cybersecurity, serta literasi teknologi.
