BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 di Kisaran 4,9-5,7%
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%-5,7%. Proyeksi tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2026.
“Pertumbuhan ekonomi berada dalam kisaran 4,9-5,7%,” kata Gubernur BI Destry Damayanti di kantor BI, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Destry mengatakan, untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, kinerja neraca pembayaran perlu terus diperkuat guna mendukung ketahanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Baca Juga
DPR Janji "All Out" Tuntaskan RUU Perampasan Aset, Target Ketok 15 Desember
“Neraca perdagangan periode Juli 2026 mencatat surplus sebesar US$0,12 miliar. Setelah pada bulan sebelumnya mencatat defisit US$0,45 miliar,” kata dia.
Sementara itu, aliran investasi portofolio asing pada kuartal III-2026 hingga 21 September 2026 mencatat net inflow US$0,4 miliar. Aliran tersebut ditopang oleh transaksi penerbitan global bond pemerintah dan inflow pada Surat Berharga Negara (SBN).
Destry mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga dan perlu terus didorong dengan mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi.
Perkembangan terkini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, ditopang besarnya berbagai stimulus pemerintah serta mulai menguatnya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen.
Baca Juga
Kemenkeu Proyeksikan Ekonomi Global Wait and See, Geopolitik dan Suku Bunga Tinggi Jadi Tantangan
Sementara itu, investasi tetap tumbuh baik, terutama ditopang oleh investasi pemerintah. Namun, peran investasi swasta masih perlu ditingkatkan.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat sejalan dengan peningkatan permintaan dari beberapa negara. “Meskipun berbagai upaya terus diperkuat guna mengoptimalkan kenaikan harga komoditas ekspor,” ujar Destry.
BI Perkuat Kebijakan
Ke depan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik. Perkembangan tersebut didukung implementasi berbagai program stimulus pemerintah, keyakinan pelaku ekonomi yang membaik, serta optimalisasi berbagai sumber pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
SILO Akuisisi 14 Properti RS, BRI Danareksa Pasang Target Rp 2.850
BI juga terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan berdaya tahan.
