Efek Daya Beli Turun, Industri Telko Diharapkan Tetap Tumbuh di Kisaran 5,7%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pertumbuhan industri telekomunikasi 2026 masih dibayangi tekanan daya beli masyarakat. Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) berharap pertumbuhan tahun ini setidaknya dapat menyamai capaian tahun sebelumnya sebesar 5,6%-5,7%.
Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir mengatakan, kondisi ekonomi dan situasi global menjadi faktor yang perlu diperhatikan industri telko. Menurutnya, kemampuan masyarakat membayar kebutuhan dasar dapat memengaruhi belanja layanan telekomunikasi.
“Kalau tahun lalu 5,6-5,7% growth-nya. Tahun ini dengan kondisi global seperti ini ya, daya beli, affordability masyarakat, kita juga aware sih,” kata Marwan di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, kenaikan biaya kebutuhan masyarakat dapat berdampak pada kemampuan membeli layanan telekomunikasi. Ia mencontohkan pelaku usaha yang harus menanggung kenaikan biaya bahan bakar non subsidi sekaligus tetap memnuhi kebutuhan kuota untuk produktivitas mereka.
Baca Juga
ATSI Masih Tunggu Biaya Verifikasi Biometrik Turun Jadi Rp 600
Kendati demikian, ATSI belum dapat memastikan pertumbuhan industri telko hingga akhir 2026. Namun, Marwan berharap kinerja industri setidaknya dapat bertahan di level tahun sebelumnya.
“Mudah-mudahan bisa bertahan kayak tahun lalu saja udah alhamdulillah, 5,6-5,7% pertumbuhannya. Paling enggak sama,” pungkasnya.
Sebagai pengingat, tahun ini pemerintah sudah menuntaskan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kedua frekuensi itu pun diharapkan dapat menjadi angin segar bagi industri telekomunikasi Tanah Air.
Meksi begitu, sejumlah dinamika juga harus dihadapi. Mulai dari penerapan registrasi biometrik, perlindungan kuota hangus, hingga sengketa menara telekomunikasi di Badung yang turut menjadi tantangan.
