World Bank dan IMF Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih di Atas 5%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan masih akan terjaga di atas 5%. Dua lembaga internasional, Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional atau IMF, menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026.
World Bank melihat perekonomian di kawasan Asia Timur dan Pasifik tumbuh lebih cepat. Ini terjadi karena produksi dan ekspor barang-barang berteknologi tinggi yang menopang aktivitas terkait akal imitasi (AI) secara global.
World Bank menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,5 persen poin menjadi 5,2% secara tahunan pada 2026. World Bank juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stabil pada 2027.
Pertimbangan ini dibuat karena dampak negatif dari kenaikan harga energi ternyata tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Aktivitas ekonomi juga ditopang oleh peningkatan aktivitas program-program prioritas pemerintah, investasi yang terkait dengan BUMN, dan subsidi energi.
Bauran kebijakan tersebut telah menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, namun juga berkontribusi terhadap pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan proyeksi defisit transaksi berjalan yang meningkat menjadi 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026.
“Seiring dengan berkurangnya stimulus fiskal, pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah diproyeksikan akan semakin bergantung pada investasi swasta. Sementara itu, inflasi diperkirakan bertahan di sekitar batas atas kisaran sasaran inflasi bank sentral,” demikian paparan World Bank dikutip Senin (19/10/2026).
Baca Juga
Pemerintah Siap Replikasi Pertumbuhan Ekonomi 99 Daerah Demi Target 2027
Sementara itu, IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1% untuk 2026 dan 2027. IMF juga memproyeksikan inflasi juga menyentuh 3,3% pada 2026 dan 2,8% pada 2027.
Dalam pertimbangannya IMF menyebut kawasan Asia Pasific masih ditopang momentum teknologi yang didorong oleh AI memberikan penyeimbang penting terhadap tekanan geopolitik. Dalam jangka pendek, hal ini tercermin dalam peningkatan ekspor serta kenaikan investasi dan pendalaman modal. Dalam jangka panjang, adopsi AI yang lebih luas berpotensi mengubah pola produktivitas.
Perdagangan bersih perangkat keras AI telah meningkat secara eksponensial sebagai bagian dari PDB dunia. Perubahan ini lebih banyak didorong oleh faktor harga daripada volume.
Namun, momentum AI kemungkinan tidak akan memberikan manfaat yang sama besar bagi semua perekonomian. Lanskap AI global masih sangat terkonsentrasi, baik di sektor hulu, yakni perangkat keras komputasi yang dibutuhkan untuk pelatihan dan inferensi AI, maupun di sektor hilir, yakni pengembangan dan pengoperasian model AI mutakhir.
