Rupiah Menguat Jelang Penyampaian Hasil RDG BI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terpantau menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (23/9/2026). Nilai tukar rupiah menguat 0,22% ke posisi Rp 17.844 per dolar AS.
Empat mata uang yang turut menguat pada perdagangan Rabu ini yaitu peso Filipina menguat 0,16%, ringgit Malaysia menguat 0,12%, won Korea Selatan menguat 0,07%, dan rupee India yang menguat 0,23%.
Sementara itu, beberapa mata uang di kawasan Asia lain terpantau melemah. Yen Jepang melemah 0,15%, yuan China dan dolar Singapura melemah 0,05%, baht Tailan melemah 0,06%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro memperkirakan nilai tukar rupiah akan mengalami pelemahan ringan, terutama mencerminkan penguatan DXY, tingginya suku bunga global, dan ketidakpastian pasar domestik menjelang keputusan BI Rate.
Namun, harga Brent yang berada di bawah US$ 100 per barel serta arus dana asing yang kembali masuk ke pasar obligasi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan dapat membatasi tekanan pelemahan lebih lanjut.
Baca Juga
Dalam catatan Andry, indeks DXY menguat sekitar 0,17% menjadi 100,60 dan telah menguat 2,32% year to date. Penguatan terjadi di tengah ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed lebih lanjut.
Pasar akan mencermati rilis flash PMI AS September 2026 malam ini, dengan PMI komposit diperkirakan berada di 55,5, PMI manufaktur 53,0, dan PMI jasa 56,4. Data tersebut akan memberikan indikasi awal mengenai dampak kenaikan harga energi dan kondisi moneter yang lebih ketat terhadap aktivitas ekonomi AS.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih tinggi, dengan pasar memperkirakan probabilitas sekitar 53% untuk kenaikan 25 bps lainnya pada pertemuan FOMC Oktober, sementara probabilitas kenaikan berikutnya pada Desember berada di sekitar 90%.
Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins dan Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin kembali menegaskan bahwa inflasi yang persisten dapat memerlukan pengetatan kebijakan lebih lanjut, terutama karena tekanan harga telah meluas di luar sektor energi.
Harga minyak mentah Brent turun 1,09% menjadi US$ 99,3 per barel, kembali berada di bawah US$ 100 per barel seiring membaiknya arus pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi telah mengaktifkan kembali pipa East-West dan meningkatkan pengiriman melalui Selat Hormuz, sementara Iran menyatakan bahwa selat tersebut dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari apabila tekanan militer AS mereda. Namun, ketidakpastian masih tinggi karena kesepakatan langsung antara AS dan Iran belum terwujud, sehingga premi risiko geopolitik tetap tinggi.
