Rupiah Bergerak Melemah Jelang Penyampaian RDG BI Agustus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (19/8/2026). Posisi rupiah melemah 0,02% menjadi Rp 17.865 per dolar AS pada pukul 09.12 WIB berdasarkan data Bloomberg.
Sejumlah nilai tukar mata uang Asia bergerak beragam terhadap dolar AS. Yuan China dan yen Jepang bergerak menguat masing-masing 0,02% dan 0,12%. Dolar Singapura terpantau menguat 0,02%.
Sama seperti mata uang Garuda, rupee India terpantau melemah 0,07%, ringgit Malaysia mepemah 0,1%, dan baht Tailan melemah 0,07%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat imbal hasil US Treasury 10 tahun turun 1,59 bps menjadi 4,71%, meskipun tekanan tetap terkonsentrasi di tenor panjang. Imbal hasil US Treasury 30 tahun sempat mencapai 5,34%, level tertinggi sejak 2007.
Indeks dolar AS atau DXY relatif stabil, naik 0,02% menjadi 99,66 karena data ekonomi AS yang lebih lemah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Namun, risiko geopolitik dan tingginya imbal hasil Treasury masih memberikan dukungan terhadap dolar AS.
Baca Juga
Data ekonomi AS memberikan sinyal yang beragam. Housing starts pada Juli turun 12,4% secara bulanan menjadi 1,239 juta unit secara tahunan, dengan pembangunan rumah keluarga tunggal turun 9,9%. Hal tersebut menunjukkan tekanan yang masih berlanjut akibat tingginya suku bunga hipotek.
Meski demikian, produksi industri dan manufaktur masing-masing meningkat 0,2% secara bulanan, menunjukkan ketahanan sektor manufaktur, khususnya industri teknologi tinggi.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September terus mereda. Survei Reuters menunjukkan sekitar 90% ekonom memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada 3,50–3,75% pada September. Perhatian kini tertuju pada risalah rapat FOMC 28–29 Juli yang akan dirilis hari ini dalam sesi perdagangan AS, untuk melihat seberapa luas dukungan internal terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi risiko utama terhadap kenaikan inflasi global. Harga minyak Brent ditutup pada US$ 91,02 per barel, level penutupan tertinggi sejak 24 Juli, seiring memudarnya prospek kesepakatan AS–Iran yang berkelanjutan serta berlanjutnya kekhawatiran mengenai gangguan melalui Selat Hormuz. Harga minyak yang tinggi terus mempersulit prospek disinflasi global dan memberikan tekanan naik terhadap imbal hasil obligasi jangka panjang.
Indikator ekonomi terbaru China memperkuat kekhawatiran mengenai melemahnya permintaan domestik. Pertumbuhan produksi industri pada Juli melambat menjadi 4,5% secara tahunan dari 5,3%, sementara penjualan ritel hanya tumbuh 0,6% secara tahunan.
Momentum yang lebih lemah, ditambah rendahnya pertumbuhan investasi dan kredit, membuat ekspektasi terhadap tambahan dukungan kebijakan dari Beijing tetap tinggi.
Katalis domestik utama hari ini adalah keputusan kebijakan Bank Indonesia pada Agustus. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Agustus berakhir hari ini, dengan BI Rate secara umum diperkirakan tetap di 5,75%. Dengan inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang masih solid, kami memperkirakan BI akan terus memprioritaskan stabilitas Rupiah di tengah tingginya harga minyak, volatilitas imbal hasil global, serta risiko geopolitik yang masih berlangsung.

