Menkeu Baru Harus Jadi Momentum Perkuat Kepercayaan Dunia Usaha
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi pemerintah, mempercepat eksekusi kebijakan ekonomi, dan meningkatkan kepercayaan dunia usaha.
Fungsionaris Kadin Indonesia, Muhammad Sirod, menilai pergantian tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya koreksi terhadap kinerja Purbaya. Menurut dia, sejumlah indikator fiskal dan ekonomi selama masa kepemimpinan Purbaya justru menunjukkan perkembangan positif.
“Saya kira kinerja Pak Purbaya selama ini cukup baik. Kalau kita lihat dari indikatornya, defisit bisa dijaga di bawah 3 persen, fiskal cukup oke, APBN juga kredibel. Pertumbuhan ekonomi beberapa kali mendekati 6 persen,” kata Sirod dalam wawancara melalui telepon, Selasa (15/9/2026).
Data resmi menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada triwulan I-2026. Sementara itu, penerimaan perpajakan hingga semester I-2026 tumbuh 24,6%.
Sirod juga menilai implementasi sistem administrasi perpajakan Coretax mulai memberikan hasil yang dirasakan pelaku usaha. Menurut dia, Coretax yang sebelumnya menjadi pekerjaan rumah pada periode Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kini mulai berjalan lebih efektif. “Saya dengan konsultan pajak saya bicara, ternyata lebih enak dan lebih terdeteksi. Jangan coba-coba mainin pajak deh,” ujarnya.
Menurut Sirod, perbaikan administrasi perpajakan tersebut merupakan salah satu fondasi yang perlu dilanjutkan oleh Suahasil sebagai Menteri Keuangan baru.
Ia menilai alasan pergantian Menteri Keuangan lebih tepat dilihat dari kebutuhan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat efektivitas dan kecepatan kerja tim pemerintah.
Menteri Keuangan, kata Sirod, memiliki posisi strategis karena bertanggung jawab langsung kepada Presiden dalam pengelolaan keuangan negara. Karena itu, apabila Presiden menilai terdapat agenda yang perlu dipercepat dan membutuhkan respons yang lebih sesuai dengan arah pemerintah, pergantian personel merupakan kewenangan Presiden.
“Saya melihat ini lebih kepada kebutuhan Pak Presiden sendiri. Kita sebagai pengusaha biasanya baru bisa melihat efektivitas kebijakan setelah beberapa waktu,” katanya.
Sirod tetap memandang pergantian tersebut secara optimistis. Memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo, stabilitas politik dinilai relatif terbentuk sehingga perhatian pemerintah perlu semakin diarahkan pada kekompakan tim dan kecepatan eksekusi kebijakan. “Sekarang harus mulai memikirkan bagaimana tim ini lebih padu, lebih gerak cepat. Pemerintah juga sedang mencari resource untuk mengelola energi, pangan dan SDM dengan baik,” ujarnya.
Baca Juga
Perkuat Kepercayaan Pasar
Menurut Sirod, karakter Menteri Keuangan juga perlu disesuaikan dengan fungsinya sebagai bendahara negara. Kemampuan komunikasi publik tetap penting, tetapi setiap pernyataan Menteri Keuangan memiliki sensitivitas tinggi karena berkaitan langsung dengan stabilitas pasar dan kepercayaan investor.
“Menteri Keuangan itu pembantu Presiden dan bendahara negara. Jadi harus tegak lurus dengan keinginan dan harapan Presiden serta bisa padu dengan tim pemerintah lainnya,” katanya.
Ia berharap gaya kepemimpinan Suahasil yang lebih tenang serta latar belakangnya sebagai teknokrat dapat memperkuat kepercayaan pasar sekaligus meningkatkan koordinasi dalam tim ekonomi pemerintah.
Setelah dilantik pada 14 September 2026, Suahasil menyatakan akan menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara serta memastikan APBN tetap mendukung program prioritas pemerintah. Ia juga menegaskan defisit akan dijaga di bawah 3% dan komunikasi publik menjadi bagian dari upaya menjaga kredibilitas pengelolaan APBN.
Bagi Sirod, tantangan berikutnya adalah memastikan fondasi fiskal tersebut mampu mendukung target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 dan menuju 8% pada 2029. “Target Pak Prabowo cukup besar, 8%. Untuk menuju ke sana kita butuh penggerak ekonomi, yaitu investasi,” katanya.
Ia menilai realisasi investasi yang mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester I-2026 dengan penyerapan 1,45 juta tenaga kerja menjadi modal awal yang perlu terus diperbesar.
Sirod berharap Suahasil dapat memperkuat strategi pemerintah yang mengandalkan dua mesin pertumbuhan, yakni BUMN dan sektor swasta. “Yang kita harapkan, dua mesin besar ini jalan. BUMN jalan, swasta juga jalan. Kalau dua-duanya bergerak, saya kira pertumbuhan ekonomi akan lebih kuat,” ujarnya.
Menurut dia, sektor swasta perlu kembali memperoleh ruang untuk meningkatkan investasi dan ekspansi usaha sehingga mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja melalui industrialisasi. “Di sini baru efeknya terasa menyerap tenaga kerja terdidik,” katanya.
Baca Juga
Rosan Pastikan Pergantian Menkeu Tak Pengaruhi Pengalihan Utang KCIC ke Kemenkeu
Efisiensi dan Kepastian Hukum
Sirod juga mendukung agenda efisiensi pemerintah. Namun, efisiensi menurut dia harus diarahkan pada perbaikan struktur dan kualitas belanja, bukan sekadar pemangkasan anggaran.
Pemerintah, kata dia, perlu mengurangi pemborosan baik di tingkat pusat maupun daerah dan menghindari ketergantungan terhadap utang untuk menutup kebutuhan pembiayaan. “Kita tidak boleh lagi punya mental gampang utang. Efisiensikan dulu badan kita,” katanya.
Ia menilai tiga agenda Prabowo yang dinilai memiliki dampak sistemik, yakni ketahanan energi, ketahanan pangan, dan transformasi BUMN, dapat berjalan tanpa mengandalkan gelontoran utang.
Dari sisi dunia usaha, Sirod mengakui kondisi bisnis masih menghadapi tekanan dan penciptaan lapangan kerja tetap menjadi persoalan. Namun, ia melihat mulai muncul ruang optimisme seiring dengan perbaikan penegakan hukum. “Kalau kita tidak aman, kalau hukumnya tidak stabil dan tidak fair, kita habis. Sekarang saya melihat ada pijakan untuk optimisme,” ujarnya.
Menurut dia, kepastian hukum dan perlakuan yang adil merupakan prasyarat agar pelaku usaha berani mengambil risiko investasi dalam jangka panjang.
Sirod memperkirakan perubahan struktural dalam kebijakan ekonomi tidak akan menghasilkan dampak secara instan. Karena itu, pergantian Menteri Keuangan perlu dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi pemerintah, menjaga kredibilitas fiskal, memperbesar investasi, dan menggerakkan kembali sektor swasta.
“Bisnis sekarang memang masih seret. Tetapi kalau fondasi sistemnya dibenahi, saya mulai melihat optimisme. Mungkin memang tidak cepat, dua sampai tiga tahun baru akan terasa,” kata Sirod.
