Kemensos Akui Bansos Bikin Masyarakat Demotivasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Sosial (Kemensos) mengklaim bahwa penyaluran bansos menyebabkan demotivasi masyarakat. Data Kemensos menunjukkan adanya penerima bansos yang mendapatkan bantuan secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang.
“Kenapa demotivasi? Seolah-olah kalau saya ibaratkan kelinci di dalam lubang, kita beri kelinci makan wortel di dalam lubangnya. Apa yang terjadi? Kelinci itu enggan keluar karena dapat terus makanannya,” kata Tenaga Ahli Kemensos, Andi Kurniawan dalam Diskusi Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan di Politeknik Statistika STIS, Jakarta, pada Jumat (11/9/2026).
Andy mengatakan, penelusuran yang dilakukan Kemensos menunjukkan ada 4,6 juta penerima bansos telah menerima bantuan selama lebih dari lima tahun. Tak hanya itu, tercatat ada 36.460 penerima yang tercatat menerima bansos selama lebih dari 18 tahun.
“Sementara di luar DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), ada yang membutuhkan (bansos) seperti penduduk berusia lansia, disabilitas terlantar, gara-gara tidak masuk data sehingga mereka tidak terima bansos. Jadi, by design, exclusion value-nya memang sangat tinggi,” ucap dia.
Baca Juga
Kemensos Tahan Penyaluran Bansos untuk 1.400 Penerima Manfaat karena Terindikasi Judol
Kondisi ini mendorong pemerintah memutakhirkan data melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Pemerintah berharap pembaruan data tersebut membuat pengentasan kemiskinan dapat berjalan sesuai dengan data yang akurat.
Pemerintah akan Putuskan Masyarakat yang Masih Layak Terima Bansos
Dengan DTSEN, Andy menyebut pemerintah bisa memutuskan penduduk yang masih layak menerima bantuan dan siapa yang sudah seharusnya keluar dari daftar penerima. Mekanisme yang digunakan yaitu menggunakan pemeringkatan desil. Desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya.
Sebelum penggunaan DTSEN, pemerintah menggunakan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Melalui data ini, penerima bansos tersebar di sejumlah kelompok desil atas. Misalnya pada kuartal I-2025 penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako terpisah-pisah dalam seluruh kelompok desil.
Saat itu tercatat 64.000 penerima bansos tercatat berada di desil 10. Seharusnya penerima bansos berada dalam masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, terutama kelompok desil 1 hingga desil 4.
Dengan DTSEN dan model desil, penerima yang sebelumnya berada di desil 6 hingga desil 9 secara bertahap akan dievaluasi. Masyarakat di desil 6 hingga 10 secara bertahap dikeluarkan dari daftar penerima bansos. Upaya memindahkan secara berkala ini untuk menghindari terjadinya guncangan di lapisan masyarakat.
"Kalau kita pindahkan langsung, bayangkan akan ada sekian juta orang yang tiba-tiba tidak menerima bansos akan shock. Makanya sekarang bertahap, kita pelan-pelan," ujar dia.
Setelah pemerintah menggunakan DTSEN sebagai acuan penyaluran bansos tercatat ada 4,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) penerima bansos baru yang sebelumnya tidak menerima.
“Sejak DTSEN kita gunakan, ada 4,3 juta KPM baru pada desil 1 sampai desil 4 yang awalnya tidak mendapatkan bansos sama sekali, ini mendapatkan bansos. Ini yang tidak pernah ada di media sosial,” ucap dia.
