Cadangan Devisa Naik ke US$146,5 Miliar, Rupiah Belum Sepenuhnya Lepas dari Tekanan
JAKARTA, investortrust.id – Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada Agustus 2026 dari US$145,3 miliar pada Juli 2026. Meski mencapai posisi tertinggi sejak Maret 2026, kenaikan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar terhadap rupiah secara signifikan.
Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) dalam laporan bertajuk Samuel Economic Update: Indonesia Foreign Exchange Reserves yang dikirim pada Senin (07/09/2026) menyebutkan, posisi cadangan devisa tersebut sedikit melampaui proyeksi SSI sebesar US$146,26 miliar.
Menurut Tim Macro Strategy SSI Research, peningkatan cadangan devisa terutama ditopang oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Dana tersebut mampu mengimbangi kebutuhan pembayaran utang luar negeri serta berlanjutnya intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga
BI: Cadangan Devisa Agustus 2026 Naik 0,83% Menjadi US$ 146,5 MIliar
Di sisi lain, aliran penerimaan devisa dari aktivitas ekonomi belum menunjukkan penguatan berarti. Berdasarkan estimasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang dikutip SSI, penerimaan pajak dan jasa pada Agustus 2026 turun sekitar 2% dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan cadangan devisa itu tetap memberikan tambahan bantalan bagi ketahanan sektor eksternal Indonesia. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor dan masih berada di atas standar kecukupan internasional.
Namun, Samuel Sekuritas mengingatkan ruang peningkatan cadangan devisa dapat terbatas apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut dan Bank Indonesia harus terus melakukan intervensi. Penggunaan cadangan devisa untuk stabilisasi nilai tukar berpotensi mengimbangi tambahan devisa yang masuk.
Komposisi peningkatan cadangan devisa juga perlu dicermati karena dukungan utamanya berasal dari pinjaman luar negeri pemerintah, bukan dari penguatan arus masuk devisa organik, seperti penerimaan ekspor dan investasi portofolio. Kondisi ini membuat perbaikan cadangan devisa masih relatif rentan terhadap perubahan arus modal global. “Dari perspektif pasar, data tersebut hanya memberikan sentimen positif terbatas bagi rupiah dan obligasi pemerintah Indonesia,” tulis Tim Macro Strategy SSI Research.
Baca Juga
Menurut SSI, kenaikan cadangan devisa belum akan mengubah sentimen investor secara material karena ketidakpastian mengenai arah suku bunga global, arus modal, dan kekuatan dolar Amerika Serikat masih membayangi pasar. Pelemahan aliran investasi portofolio atau meningkatnya pembayaran utang luar negeri dapat kembali menekan posisi cadangan devisa.
Ke depan, SSI memperkirakan cadangan devisa Indonesia tetap memadai, tetapi ruang untuk mencatatkan kenaikan besar dalam jangka pendek relatif terbatas. Peningkatan yang lebih berkelanjutan membutuhkan penguatan arus dana portofolio, kenaikan penerimaan devisa hasil ekspor, serta kondisi pasar keuangan global yang lebih kondusif.
Secara keseluruhan, Samuel Sekuritas menilai risiko sektor eksternal Indonesia masih tinggi. Akumulasi cadangan devisa diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak merata, seiring Bank Indonesia menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan upaya mempertahankan kecukupan cadangan devisa.
Pada perdagangan Senin (07/09/2026), rupiah ditransaksikan pada kurs Rp 17.630,80 per dolar AS. Pada 7 Agustus 2026, kurs dolar AS berdasarkan Jisdor Bank Indonesia tercatat Rp17.913 per dolar AS.
