Cadangan Devisa Naik, Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.218/USD
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat (7/6/2024) pagi, ke level Rp 16.218/USD. Penguatan mata uang Garuda ini seiring rilis data cadangan devisa Indonesia yang naik pada Mei 2024.
Nilai tukar rupiah terhadap greenback tercatat naik 26 poin atau 0,16% ke Rp 16.218/USD per dolar AS hingga pukul 11.10 WIB, merujuk data RTI. Namun, secara year to date, rupiah masih melemah 5,35%.
“Mendahului Bank Sentral AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB) telah memangkas suku bunganya. Sesuai perkiraan pasar, ECB akhirnya memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps ke level 3,75%, pada pertemuan 6 Juni 2024,” kata analis Cheril Tanuwijaya membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Jumat (7/6/2024).
Baca Juga
Pemangkasan Bunga Perdana
Head of Research Mega Capital Sekuritas itu menjelaskan, langkah ECB tersebut merupakan pemangkasan perdana sejak tahun 2019. Hal ini sejalan dengan kondisi inflasi Eropa yang menjinak.
“Pada periode Mei 2024, inflasi masih berada di 2,6%. Meski demikian, Gubernur ECB Christine Lagarde merevisi naik target inflasi tahun 2024 dan 2025, serta menegaskan bahwa kebijakan moneter ke depan akan bergantung pada perkembangan data-data ekonomi,” ucap Cheril.
Baca Juga
Sementara itu, investor juga mencermati sejumlah data penting AS. Rilis klaim pengangguran mingguan berakhir 1 Juni lalu naik ke level tertinggi dalam 8 bulan terakhir, ke 229 ribu. Data ini sejalan dengan rilis data tenaga kerja sebelumnya yang menunjukkan perlemahan pasar tenaga kerja AS.
"Hari ini, pelaku pasar berpotensi bersikap risk off. Hal itu lantaran menanti rilis data tingkat pengangguran dan NFP (Non-Farm Payroll) AS, produk domestik bruto (PDB) Eropa, dan neraca perdagangan Tiongkok," paparnya.
Cadev 139,0 Miliar Dolar AS
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2024 tercatat sebesar 139,0 miliar dolar AS. Cadev ini naik 2,06% dibandingkan posisi akhir April lalu sebesar 136,2 miliar dolar AS.
Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah. "Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," papar Departemen Komunikasi Bank Indonesia dalam keterangan di Jakarta, 7 Juni 2024.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal. Cadev ini juga dapat menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di Tanah Air.

