Gubernur BI: Pertumbuhan Kredit Masih Ditopang Pemerintah dan Danantara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut pertumbuhan kredit hingga Juli 2026 sebesar 13,58% secara tahunan. Kredit yang tumbuh double digit ini ditopang oleh peran pemerintah dan Danantara.
“Kalau kita lihat di sini, swasta non-IKNB (Industri Keuangan Non-Bank) itu umumnya, mesin pertumbuhan baru yaitu Danantara. Kemudian kita lihat pemerintah yang merah itu BUMN,” ucap Destry, saat Sarasehan 100 Ekonom yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Dari data yang dipaparkannya, kontribusi swasta non-IKNB pada pertumbuhan kredit Juli 2026 mencapai 7,92%. Sementara itu, kontribusi pemerintah dan BUMN yaitu 2,2%. Kontribusi swasta IKNB mencapai 1,14% dan perseorangan mencapai 1,56%.
Berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit bank pelat merah mencapai 16,95% pada Juli 2026. Jauh di angka pertumbuhan kredit keseluruhan secara industri. Di sisi lain, pertumbuhan kredit dari perbankan swasta baru mencapai 11,9% di bawah pertumbuhan kredit secara industri.
“Bahwa intermediasi ini sekarang masih state-led. Jadi, di-drive oleh pemerintah dan IKNB non-swasta, dengan Danantara sebagai salah satu pendorong,” ujar dia.
Dari sisi Loan to Deposit Ratio (LDR), Destry juga melihat likuiditas yang tak merata. Data menunjukkan, LDR bank Himbara per Juli 2026 mencapai 90,25%. LDR swasta non-KBMI 4 mencapai 89,54% dan LDR swasta sebesar 86,29%.
“Artinya di sini kita melihat likuiditas yang ada di industri itu tersegmentasi. Jadi, tidak terdistribusi secara merata,” kata dia.
Baca Juga
Kredit Perbankan Tembus Rp 9.081 Triliun per Juni 2026, Naik 12,67%
Menyadari segmentasi tersebut, bank sentral telah membuat kebijakan agar segmentasi ini dapat merata. Sejak awal 1 September 2026 ini, BI memberikan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Pendalaman Pasar Uang. Dengan kebijakan ini, perbankan yang mengurangi rasio simpanan surat-surat berharga (SSB) terhadap funding di bawah 19%. Insentif KLM Pendalaman Pasar Uang ini sebesar maksimal 2% dari DPK.
Untuk memahami masalah intermediasi yang terjadi di sisi permintaan, Destry mengatakan bahwa Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengajak Danantara dalam rapat-rapat yang digelar. Hadirnya Danantara dapat menggambarkan sektor riil.
“Dan kita juga tahu bahwa salah satu driver untuk kredit kita sekarang memang Danantara. Jadi, kita harus dengar mereka, apa yang menjadi concern mereka,” kata dia.
