Rupiah dan Sejumlah Mata Uang Asia Menguat pada Kamis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (3/9/2026). Rupiah menguat sebesar 0,32% menjadi Rp 17.706 per dolar AS.
Selain rupiah, nilai tukar sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,18%, yuan China menguat 0,03%, ringgit Malaysia menguat 0,19%. Sementara itu, dolar Singapura menguat 0,03% dan baht Tailan menguat 0,15%.
Sementara itu, rupee India melemah 0,03%. Pelemahan juga terjadi pada won Korea Selatan yang melemah 0,05%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa indeks DXY melemah 0,08% menjadi 99,60 karena data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah mengimbangi permintaan aset safe haven akibat konflik di Timur Tengah.
Pertumbuhan lapangan kerja swasta ADP pada Agustus 2026 hanya mencapai 38 ribu, di bawah konsensus 48 ribu dan angka sebelumnya yang direvisi naik menjadi 46 ribu. Sementara itu, pesanan pabrik (factory orders) AS pada Juli 2026 naik 0,9% secara bulanan, di atas konsensus 0,6%, setelah sebelumnya turun 0,2%.
Pada Kamis malam ini, ISM Services akan mengumumkan PMI AS Agustus 2026, yang diperkirakan berada di sekitar 54,2, dibandingkan 54,1 sebelumnya, menjelang rilis laporan ketenagakerjaan pada Jumat (4/8/2026).
Baca Juga
Menurut Andry, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap tinggi, tetapi sedikit moderat setelah laporan ketenagakerjaan ADP yang lebih lemah. Kontrak berjangka Fed funds kini mencerminkan probabilitas sekitar 63% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September 2026, dibandingkan sekitar 35% sebelum komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Risiko inflasi yang masih persisten dan harga minyak yang tinggi terus mendukung kecenderungan The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Namun, tanda-tanda melemahnya permintaan tenaga kerja membuat laporan payroll Jumat semakin penting. Nonfarm payrolls diperkirakan meningkat sekitar 56 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap di 4,1%.
Menurut Andry, ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, mendorong harga minyak mentah Brent semakin berada di atas US$ 95/barel. Harga Brent naik 1,04% menjadi US$ 95,6/barel setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan dalam eskalasi terbesar sejak Juli.
Kondisi ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi secara fisik. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas, sehingga harga minyak dan ekspektasi inflasi global tetap rentan terhadap risiko eskalasi lebih lanjut.
