Destry Damayanti, Srikandi BI yang Siap Jaga Stabilitas Ekonomi RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Destry Damayanti, Aida S. Budiman, dan Solikin M. Juhro berbaris. Di hadapan mereka, Hakim Mahkamah Agung (MA) Sunarto bersiap menyimak.
Secara bersamaan dan bergiliran, Destry, Aida, dan Solikin membacakan sumpah jabatan. Dengan sumpah yang terucap, Destry resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031. Sementara dua rekannya, Aida resmi menjabat Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin sebagai Deputi Gubernur BI.
Komposisi isi tiga orang ini menjadi jawaban pemerintah atas gonjang-ganjing yang terjadi di tubuh bank sentral. Puncaknya, Perry Warjiyo mundur dari tampuk pimpinan BI pada 25 Juli 2026.
Untuk mengisi kekosongan, pemerintah menunjuk Destry sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI. Beberapa hari berselang, 10 Agustus 2026, pemerintah mengajukan Destry sebagai calon tunggal gubernur BI.
Naiknya Destry sebagai calon Gubernur BI tentunya meninggalkan jabatan Deputi Gubernur Senior yang kosong. Pemerintah pun mengusulkan nama Aida sebagai calon tunggal.
Untuk mengisi posisi Deputi Gubernur yang kelak ditinggalkan Aida, pemerintah menunjuk dua nama pejabat BI untuk berkompetisi, yaitu Kepala Departemen Pengelolaan Uang, M. Anwar Bashori dan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial, Solikin M. Juhro. Pada akhirnya diketahui parlemen menetapkan Solikin M Juhro untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Aida.
Usai dilantik, Destry menyebut ia akan memikul tanggung jawab sebagai gubernur bank sentral. Bersama dua koleganya yang baru dilantik, Destry akan memfokuskan kebijakan untuk memenuhi prinsip 3I+S.
“Yang pertama adalah kebijakan yang bersifat impactful, kemudian juga yang bersifat inklusif dan juga yang integratif. Dan, semua ini akan bisa tercapai melalui sinergi merah-putih yang akan terus menjadi pegangan bagi kami untuk menuju Indonesia maju yang makin baik,” kata Destry, usai pelantikan di gedung MA, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Baca Juga
Destry menyadari gejolak global yang penuh ketidakpastian masih mewarnai perekonomian domestik. Untuk itu, ia menyebut fokus kebijakan jangka pendek BI yaitu menjaga stabilitas. Dia juga menyebut stabilitas sebagai kunci penting untuk membuka ruang-ruang pertumbuhan ekonomi yang semakin luas.
“Kalau kalian bertanya bagaimana stance policy dari kami ke depan tentu, pertama akan mengupayakan stabilitas,” ucap dia.
Destry mengatakan stabilitas butuh kerja sama seluruh pihak. Tak hanya bank sentral, melainkan juga kerja sama dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) serta industri perbankan. Dalam visi-misinya, kerja sama ini dia sebut sebagai Sinergi Merah Putih.
“Khususnya dalam menangani masalah-masalah domestik, seperti inflasi yang menjadi PR [pekerjaan rumah bagi kita]” kata dia.
Dalam kesempatannya berbicara sebagai Gubernur BI, Destry menyambut baik Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (P2SK). BI mendapat tugas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menciptakan iklim ekonomi yang kondusif sehingga dapat mendorong pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.
“Ini akan kami wujudkan dalam kebijakan dan tentunya akan terus bersinergi dengan kementerian/lembaga terkait lainnya,” jelas dia.
Respons terhadap 'Higher for Longer'
Wajah Destry tampak semringah usai menjalani pelantikan. Dia bercerita tentang penampilannya hari ini. Selendang yang dikenakan, kata dia, merupakan kain songket yang berasal dari Sumatera Selatan. Kain ini berasal dari kreasi UMKM binaan BI.
“Soal baju, ya baju Jawa biasa, modelnya ala Gadis Kretek gitu, baju Janggan,” kata Destry.
Gadis Kretek yang disebut Destry merupakan novel karya Ratih Kumala. Novel yang terbit pada 2012 itu bercerita tentang perjuangan Dasiah (Jeng Yah), anak juragan rokok kretek. Selain romantisme drama, Jeng Yah juga harus berhadapan dengan gejolak politik dan ekonomi, baik di tingkat global maupun dalam negeri, pada era 1960an.
Tekanan ekonomi dan politik ini pula yang harus diarungi Destry. Geopolitik global yang tak menentu telah menjadi bagian yang diwaspadai.
Baca Juga
Tok! Rapat Paripurna Tetapkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI Periode 2026-2031
Tak hanya itu, Destry juga telah mengamati fenomena suku bunga global yang berkarakter higher for longer. Imbal hasil dan inflasi yang tinggi, dia proyeksikan masih akan terjadi di banyak negara maju.
“Ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi, pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik,” kata dia.
Dengan adanya kombinasi ketidakpastian global yang tinggi ini, Destry mengatakan bahwa BI akan fokus kepada stabilitas. Meski begitu, BI juga akan tetap pro dengan pertumbuhan ekonomi. Langkah ini tak lain karena ada tiga kebijakan utama BI yang selalu berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi.
“Bank Indonesia, kebijakan utamanya ada tiga, moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Belum kebijakan lainnya yang terkait dengan UMKM, ekonomi, keuangan, dan tentunya pendalaman pasar keuangan. Di kebijakan itu, kita akan bermain, mana yang akan lebih pro-stability, mana yang akan lebih pro-growth,” ujar dia.
Harapan Menkeu hingga Industri
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menaruh harapan kepada Gubernur BI yang baru. Menurutnya, kedekatan yang terjalin dengan Destry sejak di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan membuat kebijakan yang dibuat dua otoritas semakin sinkron dan sinergis.
Selain berseloroh meminta traktir, Purbaya menyebut ingin terus berkoordinasi dengan Destry. Salah satu targetnya yaitu mempertajaman indikator untuk melihat kondisi ekonomi dan likuiditas pasar.
“Sehingga, enggak seperti kemarin-kemarin, yang menurut saya lalai atau terlambat menilai kondisi likuiditas di sistem perekonomian ketika kita pakai alat-alat yang ada,” kata Purbaya, usai menghadiri pelantikan.
Purbaya menyebut perhitungan dalam beberapa indikator seperti Alat Likuid/ Non Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) perlu diperbaiki.
“Jadi kita ingin mengembangkan tools yang betul-betul melihat riil kondisi di lapangan,” ujar dia.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Heri Gunardi berharap bank sentral dapat terus menjaga pertumbuhan ekonomi dan investasi. Dengan formasi baru yang ada, Heri berharap kepercayaan investor luar negeri terus meningkat.
“Sehingga arus modal yang tadinya sempat keluar dari Indonesia akan kembali masuk dan mengakibatkan dampaknya positif bagi ekonomi kita,” kata Heri.
Anggota Komisi XI DPR, Haris Turino mengapresiasi susunan baru di tubuh bank sentral. Dia berharap terpilihnya sosok Destry akan memberikan kepercayaan pasar. Sebab, selain Destry, sosok Aida dan Solikin berasal dari internal BI.
“Bu Destry dari internal, Bu Aida juga internal, dan deputi (gubernur) nya juga dari internal dan tanggapan pasar bagus sekali,” ujar Haris.
Baca Juga
Ekonom dan anggota Badan Supervisi BI, Piter Abdullah berharap komposisi yang ada saat ini dapat memperbaiki hubungan dengan pemerintah. Dengan begitu, koordinasi fiskal dan moneter yang terjadi dapat semakin baik.
Ditemui di sela-sela pelantikan, Piter mengatakan di tengah target pertumbuhan ekonomi, langkah BI untuk pro-growth sudah sesuai fungsi. Sebab, BI telah menjalankan mandat tersebut sejak lama dengan stabilitas.
“Jadi sebenarnya, tujuan BI dari zaman Pak Perry, itu adalah mendorong growth tapi dengan menyediakan stabilitas supaya growth itu lebih berkesinambungan,” ujar Piter.
Piter pun menganggap penambahan baru bagi BI untuk menciptakan lapangan kerja juga bukan menjadi soal. Sebab, mandat tersebut sudah muncul dalam regulasi BI di era Orde Baru.
“Mandat itu sebenarnya hanya untuk menegaskan saja. Karena, undang-undang tahun 1968 persis undang-undangnya seperti itu. Jadi sebetulnya nggak ada masalah,” kata dia.
