BPS Sebut Maulid dan MBG Naikkan Permintaan Daging Ayam Ras pada Agustus 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya kenaikan permintaan daging ayam ras pada Agustus 2026. Kenaikan permintaan daging ayam ras ini mendorong inflasi pada Agustus 2026 memberi andil 0,24% pada inflasi 3,19% secara tahunan dan andil 0,17% pada inflasi 0,21% secara bulanan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, mengatakan penyebab kenaikan permintaan daging ayam ras ini yaitu adanya Maulid Nabi Muhammad dan perayaan HUT RI ke-81.
“Dan program MBG setelah periode libur sekolah berakhir,” kata Ateng, di kantor BPS, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, Ateng mengatakan terdapat sejumlah komoditas dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mendorong inflasi secara bulanan. Selain daging ayam ras, komoditas cabai rawit, ikan segar, dan beras memiliki andil terhadap inflasi bulanan yang masing-masing tercatat 0,02%.
Selain itu, BPS juga mencatat andil inflasi yang diberikan komoditas kacang panjang, buncis, jagung manis, mentimun, semangka, dan sigaret kretek mesin, serta sigaret putih mesin. Tujuh komoditas itu memiliki andil 0,01% terhadap inflasi bulanan.
Inflasi juga didorong oleh harga emas perhiasan. Komoditas ini mengalami inflasi sebesar 0,75% dengan andil 0,02%.
Baca Juga
Rata-rata Harga Beras Naik Akibat Masa Panen Raya Sudah Usai
Secara keseluruhan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,57% dengan andil terhadap inflasi secara bulanan 0,17%. Kelompok ini juga mendorong inflasi secara tahunan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,86% secara tahunan dengan andil sebesar 1,13%.
Inflasi yang terjadi secara tahunan ini utamanya terjadi karena inflasi terhadap komoditas daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, dan beras.
Kelompok pengeluaran lain yang mendorong inflasi yaitu perawatan pribadi dan jasa lainnya dan transportasi.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 9,25% dengan andil 0,63%. Komoditas yang utamanya mendorong inflasi pada kelompok ini yaitu emas perhiasan.
Sementara itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 4,79% dengan andil 0,58%. Ateng menyebut komoditas yang mendorong inflasi yaitu bensin, tarif angkutan udara, dan pelumas/oli mesin.
