Eks Menkeu Akui Merosotnya Kontribusi Manufaktur ke Pertumbuhan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Kabinet Kerja, Bambang Brodjonegoro mengakui peran manufaktur yang terus merosot terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 serta tumbuh 5,29% secara tahunan, akan tetapi kontribusi industri pengolahan ke pertumbuhan ekonomi disebutnya hanya sebesar 18,5%.
“Kontribusi manufaktur mencapai 32% dari PDB pada 2002, sedangkan saat ini hanya 19-an%,” kata Bambang, saat Biennial Policy Conference 2026, Asia-Pacific Central Bank Conference, dipantau daring, Kamis (27/8/2026).
Bambang menjelaskan bahwa sejak berada di kabinet, ia telah melihat telah terjadi deindustrialisasi dini. Sementara penurunan kontribusi manufaktur Indonesia di angka 20%-an menurutnya masih dianggap normal oleh Kementerian Perindustrian saat itu.
“Mereka menganggap penurunan tersebut wajar karena hal yang sama juga terjadi di Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara maju lainnya,” kata dia.
Baca Juga
IEU-CEPA Buka Jalan Investasi Eropa, RI Incar Sektor Energi, Manufaktur hingga Teknologi
Pria yang juga sempat menjabat sebagai Menteri PPN/Kepala Bappenas ini menyebut ada yang luput dari perhatian otoritas. Pasalnya kecenderungan penurunan manufaktur di Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara maju lainnya terjadi ketika pendapatan per kapita negara-negara tersebut sudah relatif tinggi.
“Sementara di Indonesia, deindustrialisasi mungkin mulai terjadi sekitar tahun 2003 atau 2004, ketika pendapatan per kapita kita masih berada dalam kategori negara berpendapatan menengah bawah,” kata dia.
Bambang melihat, di banyak negara Asia berpendapatan menengah, faktor lain yang membuat sektor manufaktur sulit menjadi prioritas adalah lonjakan harga komoditas. Ledakan komoditas yang muncul sejak 2000-an, ditambah dengan dominasi China dalam manufaktur, menjadi alasan banyak negara Asia berpendapatan menengah sulit mempertahankan laju pertumbuhan manufakturnya.
Di tengah kondisi ini, Indonesia juga menghadapi tantangan lain, yakni perpindahan pekerja dari sektor pertanian justru bukan bergeser ke sektor manufaktur, tapi ke sektor-sektor dengan produktivitas rendah.
Menurut Bambang, perpindahan pekerja ke sektor produktivitas rendah ini membuat pendapatan tak meningkat secara agregat, dan fenomena ini tidak akan mampu mengurangi angka kemiskinan.
