PIER Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5,26% di Akhir 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,26% secara year on year (yoy) sepanjang 2026. Proyeksi tersebut meningkat dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 yang tercatat sebesar 5,11%.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, proyeksi tersebut ditopang oleh perubahan komposisi mesin pertumbuhan ekonomi yang mulai lebih seimbang. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama, tapi perannya mulai diimbangi oleh penguatan investasi.
“Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 tetap resilien di kisaran 5,26% secara year on year (yoy), meningkat dibandingkan 5,11% (yoy) pada 2025. Pergeseran peran antarmesin pertumbuhan yang lebih seimbang menjadi salah satu penopang keyakinan tersebut,” ujarnya, dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal II 2026, Senin (10/8/2026).
Baca Juga
Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,29%, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Proyeksi tersebut muncul setelah ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29% (yoy) pada kuartal II 2026. Meski melambat dari pertumbuhan 5,61% (yoy) pada kuartal I 2026, secara kumulatif ekonomi pada semester I 2026 tumbuh 5,45% (yoy), lebih tinggi dibandingkan 5% pada periode yang sama 2025.
PIER menilai, terdapat pergeseran dalam sumber pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat menjadi 5,06% (yoy) dari 5,52% pada kuartal sebelumnya. Sebaliknya, pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) meningkat menjadi 6,87% (yoy) dari 5,96%.
Meski investasi semakin kuat, lanjut Josua, konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi. Pergeseran tersebut dinilai menunjukkan bahwa pertumbuhan Indonesia mulai tidak hanya bergantung pada belanja masyarakat.
“Mesin ekonomi Indonesia mulai lebih seimbang. Saat konsumsi rumah tangga melandai secara musiman usai lebaran, investasi justru menguat dan menjaga momentum pertumbuhan tetap solid di atas 5%,” katanya.
Baca Juga
Indef Soroti Angka Pertumbuhan Ekonomi yang Bergantung pada Stimulus
Investasi Jadi Penopang
Penguatan investasi terlihat pada hampir seluruh kategori aset, terutama investasi bangunan dan struktur yang tumbuh 6,61% (yoy) pada kuartal II 2026, naik dari 5,29% pada kuartal sebelumnya.
PIER menyebut, peningkatan tersebut antara lain didukung pelaksanaan berbagai proyek infrastruktur pemerintah, termasuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Namun, investasi mesin dan perlengkapan justru melambat cukup tajam menjadi 1,32% (yoy) dari 10,78%. Perlambatan tersebut sejalan dengan pelemahan aktivitas manufaktur.
Kondisi ini tercermin dari penurunan purchasing managers index (PMI) manufaktur Indonesia versi S&P Global ke level 46,9 pada Juni 2026, dari 50,1 pada Maret 2026, sebelum kembali pulih ke level 50,2 pada Juli 2026.
“Pemulihan PMI ke 50,2 pada Juli 2026 menjadi sinyal positif setelah sempat terkontraksi pada Juni 2026. Kami juga mencermati sejumlah subsektor berorientasi ekspor, seperti tekstil dan alas kaki, yang justru menguat, sehingga membuka peluang diversifikasi mesin pertumbuhan industri di tengah tekanan pada sektor pertambangan,” ucap Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi.
Dari sisi konsumsi, sejumlah kategori belanja masyarakat mengalami perlambatan setelah momentum lebaran. Belanja pakaian tumbuh 3,52% (yoy) dari sebelumnya 5,99%, sedangkan transportasi dan komunikasi tumbuh 5,71% dari 6,91%. Belanja restoran dan hotel juga melambat menjadi 6,47% dari 7,38%.
Meski begitu, konsumsi tetap terjaga berkat musim libur sekolah, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta ekspansi ekonomi digital. Belanja pemerintah juga tumbuh 15,97% (yoy), antara lain didukung pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) dan keberlanjutan program MBG.
Risiko Fiskal dan Eksternal
Di tengah prospek pertumbuhan tersebut, PIER mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang dapat menahan laju ekonomi pada paruh kedua 2026. Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan, daya beli masyarakat masih terbantu oleh inflasi yang mereda menjadi 2,88% (yoy) pada Juli 2026.
Kondisi tersebut seiring keputusan pemerintah mempertahankan subsidi energi di tengah lonjakan harga energi global. “Namun demikian, strategi subsidi tersebut dinilai hanya bertahan dalam jangka pendek seiring ruang fiskal yang kian terbatas, sehingga tetap perlu diwaspadai pada semester kedua 2026,” ujarnya.
PIER juga melihat risiko dari sisi eksternal. Josua menjelaskan, ketidakpastian global, perang dagang yang berkepanjangan, ketegangan geopolitik, serta pemulihan ekonomi Cina yang masih tertahan berpotensi menekan pertumbuhan perdagangan luar negeri Indonesia.
Kondisi tersebut bahkan berpotensi memperlebar defisit kembar Indonesia, baik defisit transaksi berjalan maupun defisit fiskal, yang kemudian dapat memicu peningkatan risk off dan arus keluar modal asing.
Dengan berbagai tantangan tersebut, PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV 2026 tetap berada di atas %, meskipun momentumnya berpotensi tertahan oleh tantangan fiskal.
“Konsistensi investasi serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter ke depan menjadi kunci agar pertumbuhan Indonesia semakin ditopang oleh fondasi yang seimbang dan berkelanjutan, di tengah dinamika eksternal yang masih menantang,” kata Josua.

